Masih malam panjang, malam yang tiada berakhir bagi bembi. Ia menatap gambar pohon yang ditemanin kucing, burung dan hewan lain. Kucing - kucing yang saling jatuh cinta. Sekarang pohon itu telah ditinggalkan, semakin mengering. Sendirian dan terlihat kesepian. Bembi menatapnya sedih. Sembari berfikir, bila pohon itu tidak dapat tumbuh subur dan indah sepertinya lebih baik mati daripada ia tersiksa, nelangsa.
Bembi seperti melihat dirinya pada pohon itu, pohon yang menanti akhir cerita. Ia sadar akan kesendiriannya, sadar telah ditinggalkan namun ia tidak tau diri. Ia terus memaksakan keinginannya, keinginan yang telah ditolak mentah - mentah. Dengan halus maupun lembut, ia sadar akan penolakan itu. Namun ia menutup telinga, menutup mata, dan menutup pikirannya.
Deadline, makan, kerja, ngantuk, semua alasan yang sebelumnya tidak pernah menjadi hambatan telah dilontarkan. Ia sadar itu adalah penolakan, namun ia terus berusaha mendekat, berusaha mengingatkan masa indah yang telah dilupakan. Memupuk semangatnya sendiri yang berakhir dengan tetesan tak terbendung. Terus dan berulang.
Karenanya seseorang harus berbohong dan menjaga hatinya. Seseorang yang ingin bahagia.
Maaf, kata yang akan selalu diucapkan bembi untuk semua alasan, apapun dan kapanpun. Maaf pernah menyakiti perasaannya, maaf karena sangat menyayanginya, maaf karena mengganggu hidupnya. Maaf bila ia merasa disepelekan karena itu tidak benar banyak saksi yang melihat dan mendengar bagaimana bembi membanggakannya di hadapan keluarga maupun sahabat.
Bembi ingin melihatnya bahagia, melihatnya tersenyum, melihat matanya yang bersinar, melihat semangatnya bercerita, melihatnya tertawa, mendengar suara nyaringnya, gerakan perutnya, melihat gaya mucilnya. Semua yang ia rindukan, semua yang memenuhi pikirannya.
Maaf, ia tak bisa mengikhlaskannya seperti bagaimana ia telah dilepaskan. Maaf karena mengganggu ruang nya. Maaf karena mengikutinya selalu. Maaf karena hati bembi tak dapat menahannya. Maaf terus mengingatkannya menjaga kesehatan, maaf sering mengomelinya tentang makanan terutama tempe ataupun kacang. Maaf terus menghkawatirkannya, Maaf terus menggenggam tangannya, maaf pernah membuatnya menunggu. Maaf karena ingin bersamanya.
Maafkan atas semuanya.
Demi kebahagia orang yang disayang, demi senyum itu, bembi rela terjun ke jurang, lompat ke lautan api, ataupun terkurung didasar tanah. Untuknya, ia rela.
Tapi maaf aku masih tetap meminta, meminta untuk diingat, tak dilupakan, dan tetap disayangi. Maaf karena bembi masih tetap mengharapkan cintanya. Suatu saat, suatu hari. Sebelum pohon itu mati.