Sabtu, 30 Januari 2016

Putus Asa

Tergeletak dilantai tanpa harapan membuat bembi merasa putus asa. Ia merasa tidak memiliki apapun untuk mendorongnya bangkit. Ia ingin tertidur selamanya.

Bembi setiap hari memanggil sang terkasih, namun semua pupus. Ia meninggalkan diari berharap sang terkasih menemukannya. Mengerti hatinya, kerinduannya. Beribu kata "miss u" yang disebutnya setiap detik.

Bembi putus asa, ia berharap angin membawanya terbang, bumi menenggelamkannya, sehingga ia tidak merasakan kesakitan lagi.

Ia terus berfikir, apakah sang terkasih akan sedih bila ia hilang? Apakah sang terkasih akan menyesal menyiakannya? Menyesal membuatnya menangis sampai akhir? Apakah sang terkasih masih menyimpan sedikit cinta dan kasih untuknya?

Ia putus asa, ia tidak ingin melewati hati dengan kesakitan tanpa sang terkasih. Yah ia ingin lenyap.

Dear Kamu,

Masih tentang bembi, bembi yang tak dapat menyampaikan isi hatinya secara langsung kepada sang kekasih. Karena ia tau itu percuma, sang kekasih telah menutup mata, telinga, pikiran maupun hatinya. Sang kekasih telah mengangapnya hilang, habis, mati.

Bembi hanya dapat melukiskan segalanya melalui pena,

Dear kamu,

Malam aku sendiri disini, dirumah mungil kita, rumah yang telah kamu lupakan, rumah yang sudah tiada arti bagimu.
Malam ini aku pusing sekali, tetapi aku justru memikirkan apakah kamu baik baik saja disana? Kapankah kamu ingat jalan pulang? Kapankah kamu sadar ada yang menanti dirumah?

Rumah mungil ini sekarang terasa begitu besar, lihatlah aku memperindahnya agar kamu terpesona. Apakah rumah ini tidak mengingatkanmu akan sesuatu? Bagaimana kita membangunnya? Furnitur, dapur, kasur, lemari, tv, kipas, semuanya tidakkah kamu ingat bagaimana susahnya kita mengumpulkannya.

Sebelum memiliki rumah ini, lupakah kamu bagaimana kita tidur dilantai dengan kasur setipis selimut. Sulitnya makan sampai kita mengumpulkan koin. Membeli jajanan murah untuk mengisi perut. Lupakah kamu akan semuanya sebelum rumah ini ada. Bagaimana kita berpidah dari satu tempat ke tempat lain.

Rumah ini adalah awal, awal langkah kita. Mimpi kita masih panjang. Segala yang kita lalui tidaklah mudah. Kita berjuang. Kamu melupakan segalanya, segala yang kita bangun. Kamu selalu menjagaku, sekarang kamu terus menyakitiku. Aku selalu menggengam tanganmu, memintamu bersabar sementara waktu untuk mimpi kita. Namun kamu seakan lupa. Kamu melupakanku, siapa aku, sejarahku, perjuanganku, usahaku, cintaku, sayangku, bahkan namaku.

Sekarang kamu tidak lagi merindukanku, tidak lagi menyayangiku, tidak lagi mencintaiku. Bagaimana aku bisa bertahan? Bagaimana aku bisa tanpamu. Kamu mengajarkanku cinta, memperjuangkan cinta, tapi kamu menghilang. Meninggalkanku sendiri dalam kesedihan. Tangisanku tidak lagi berarti.

Apakah aku memang semudah itu kamu buang?

Aku sangat merindukanmu, aku sakit disini menunggumu. Jangan lepaskan.

Dari seseorang yang masih menunggumu disini.

Bembi

Jumat, 29 Januari 2016

Maaf

Masih malam panjang, malam yang tiada berakhir bagi bembi. Ia menatap  gambar pohon yang ditemanin kucing, burung dan hewan lain. Kucing - kucing yang saling jatuh cinta. Sekarang pohon itu telah ditinggalkan, semakin mengering. Sendirian dan terlihat kesepian. Bembi menatapnya sedih. Sembari berfikir, bila pohon itu tidak dapat tumbuh subur dan indah sepertinya lebih baik mati daripada ia tersiksa, nelangsa.

Bembi seperti melihat dirinya pada pohon itu, pohon yang menanti akhir cerita. Ia sadar akan kesendiriannya, sadar telah ditinggalkan namun ia tidak tau diri. Ia terus memaksakan keinginannya, keinginan yang telah ditolak mentah - mentah. Dengan halus maupun lembut, ia sadar akan penolakan itu. Namun ia menutup telinga, menutup mata, dan menutup pikirannya.

Deadline, makan, kerja, ngantuk, semua alasan yang sebelumnya tidak pernah menjadi hambatan telah dilontarkan. Ia sadar itu adalah penolakan, namun ia terus berusaha mendekat, berusaha mengingatkan masa indah yang telah dilupakan. Memupuk semangatnya sendiri yang berakhir dengan tetesan tak terbendung. Terus dan berulang.

Karenanya seseorang harus berbohong dan menjaga hatinya. Seseorang yang ingin bahagia.

Maaf, kata yang akan selalu diucapkan bembi untuk semua alasan, apapun dan kapanpun. Maaf pernah menyakiti perasaannya, maaf karena sangat menyayanginya, maaf karena mengganggu hidupnya. Maaf bila ia merasa disepelekan karena itu tidak benar banyak saksi yang melihat dan mendengar bagaimana bembi membanggakannya di hadapan keluarga maupun sahabat.

Bembi ingin melihatnya bahagia, melihatnya tersenyum, melihat matanya yang bersinar, melihat semangatnya bercerita, melihatnya tertawa, mendengar suara nyaringnya, gerakan perutnya, melihat gaya mucilnya. Semua yang ia rindukan, semua yang memenuhi pikirannya.

Maaf, ia tak bisa mengikhlaskannya seperti bagaimana ia telah dilepaskan. Maaf karena mengganggu ruang nya. Maaf karena mengikutinya selalu. Maaf karena hati bembi tak dapat menahannya. Maaf terus mengingatkannya menjaga kesehatan, maaf sering mengomelinya tentang makanan terutama tempe ataupun kacang. Maaf terus menghkawatirkannya, Maaf terus menggenggam tangannya, maaf pernah membuatnya menunggu. Maaf karena ingin bersamanya.

Maafkan atas semuanya.

Demi kebahagia orang yang disayang, demi senyum itu, bembi rela terjun ke jurang, lompat ke lautan api, ataupun terkurung didasar tanah. Untuknya, ia rela.

Tapi maaf aku masih tetap meminta, meminta untuk diingat, tak dilupakan, dan tetap disayangi. Maaf karena bembi masih tetap mengharapkan cintanya. Suatu saat, suatu hari. Sebelum pohon itu mati.

My feeling

Sia ~ I Go To Sleep ~ Lyrics: http://youtu.be/Icr1P_MzYIs

Kamis, 28 Januari 2016

Sesaknya Merindukan Bulan

Bembi terlihat murung memandang jendela. Menatap sesuatu yang terlihat jauh. Bulan.

Malam ini bulan terlihat indah, apakah ia menebarkan keindahan keseluruh pelosok bumi? Sampaikah keindahan itu padanya? Namun keindahan bulan tak dapat menghilangkan kelam malam yang masih ia rasakan.

Dadanya sesak, sungguh sakit. Adakah yang mengerti? Mengapa? Ntah bagaimana cara untuk menghilangkan sakitnya, obat, rokok, minuman atau apa? Hanya ia yang tau, ia sang rembulan yang jauh. Rembulan lain yang dirindukan.

Bembi sungguh tak mengerti, ia berharap terbangun dari mimpi ngeri yang menyakitinya. Mimpi yang menghisap hidupnya dan membunuhnya perlahan. Siang ataupun malam sudah tidak penting. Ia sudah tidak memiliki gairah, motivasi ataupun semangat lagi. Langkahnya semakin pelan, tatapannya semakin buram dan otaknya semakin melemah.

Kerinduan menghancurkannya. Menghancurkan segala asa yang dikumpulkannya dengan bersusah payah. Asa yang terbuang, asa yang dengan sabar dipungutnya dari tempat sampah, dari selokan, parit sampai TPA.

Dalam sakit dan tersiksa, ia tak mau menyerah. Bembi terus memandang rembulan yang ia rindukan. Oh rembulan rasakanlah kerinduan ini, dengarlah jeritan memanggil namamu, obatilah sakit yang dirasakan. Hentikan penyiksaan ini. Oh rembulan berikanlah sedikit cahayamu, sedikit saja. Karena meski hanya sedikit itu akan cukup memusnakan rasa sakit dan kelam malam yang ia rasakan.

Rabu, 27 Januari 2016

Hujan

Malam lalu, malam ini masih sama. Ntah berapa malam lagi yang akan kulalui dalam hujan yang panjang. Hujan yang menggerogoti tubuhku. Tubuh yang hanya dilapisi kulit tipis berwarna kecoklatan dengan wajah tirus dan tatapan mata tanpa cahaya.

Hujan merampas senyumku, memenjaraku dalam ruang sempit, memenuhi pikiranku dengan keinginan dan harapan kosong. Kadang membuatku mual, ingin memuntahkan segalanya. Segala kekecewaan.

Untuk menghibur diriku sendiri, terkadang aku mendengarkan musik sambil berdansa. Sendirian. Sampai lelah, lalu menangis dan tertidur.

Namun hujan tak rela aku tenang, ia menggangguku, menarikku kedalam, agar aku merasakan kedinginan. Tak membiarkan tertidur pulas, terus menggodaku. Hanya 2 sampai 3 jam saja ia membiarkanku bermimpi. Mimpi yang indah.

Hujan panjang ini menghancurkanku. Kemanapun aku melangkah, hujan terus mengikutiku. Aku lelah, sungguh lelah. Aku ingin mengangkat tangan, mengibarkan bendera atau menekan tombol untuk menyatakan aku menyerah. Karena hujan telah membasahi seluruh tubuhku bahkan meresap sampai kedalam hatiku. Ya Tuhan aku berpasrah padamu, berilah aku hari yang indah, hari yang penuh warna, hari yang kulalui bersamanya.

Selasa, 26 Januari 2016

Pendarahan

Akhirnya aku mengalami pendarahan yang tidak wajar. Seorang dokter spesialis kandungan mengatakan salah satu penyebabnya adalah stres. Dan yah akhirnya akupun mengalaminya.

Aku ingin berbincang pada sang bulan yang indah, namun ia begitu jauh. Dan ia pun takkan perduli. Biarlah rasa ini kulalui sendiri. Seperti aku yang sedang menerima hukuman.

Lebih beruntung seorang narapidana yang mendapatkan amnesti maupun keringanan dalam bentuk lain, dari pada aku yang tergeletak disini tanpa ampun dan iba sama sekali.

Semalam aku membaca berbagai hukuman kejam dibeberapa sudut dunia. Sungguh ngeri, membuat merinding. Kadang orang membuat suatu kesalahan, dan setiap orang memiliki kesalahan. Namun nyawa adalah titipan sang maha pencipta, dan ciptaannya akan kembali padanya. Itu pasti. Manusia dilengkapi rasa, hati, pikiran dan seluruh fitur sempurna dibandingkan makhluk lain. Tapi dengan menghukum tanpa ampun, mencabut nyawa dengan paksa adalah hukuman yang pantas? Seperti juga yang kurasa sekarang, cabikan, cambukan dan tusukan pada hatiku yang kurasa pada setiap jantungku berdetak karena cintaku yang direnggut.

Sang maha pengampun selalu memberikan kesempatan, untuk memaafkan pada setiap umatnya yang dengan sepenuh hati memohon ampunan. Aku memohon ampunan pada - Nya. Pada sang pemilik karena aku jatuh cinta padamu bulan. Cinta yang akupun tak paham. Cinta yang kurasa sangat nyata. Cinta yang menyadarkanku, ternyata betapa aku sungguh lemah.

Jejak Penguntit

Laksana penguntit aku terus memandangnya dari jauh, mengikuti langkahnya, dan mencari tahu apa yang terjadi padanya. Memandang fotonya, dan menciuminya. Tidur dengan pakainya dan memeluk guling berselimut pakaiannya juga. Aku seperti telah sakit. Penyakit yang dulu tak pernah kupahami.

Hatiku sendiri sering berperang. Ingin menyerah tapi bertahan. Ingin bahagia tapi ku bersedih. Setiap saat aku ingin tau apa ia baik - baik saja. Apa ia menjaga kesehatannya, apakah ia bahagia, ataukah ia sedang bersedih. Melihat WA nya kapan terakhir dia online dan apakah ada status di media sosialnya. Yah aku, sekarang aku adalah sang penguntit. Penguntit yang malang.

Aku begini karena ia sudah tak sudi, tak sudi mendengar suaraku, melihat wajahku. Dan tak sudi mengenang cintaku.

Suatu saat, saat dia mengingatku, walau hanya 1 menit dalam hatinya. Aku harap ia dapat mengerti apa yang kurasakan. Saat semua belum terlambat.

Karena aku sudah hidup dalam kehampaan, kesedihan yang menyesakkan. Hingga aku pun tak kan berfikir panjang lagi tentang langkahku, hidupku, tujuanku, maupun keselamatanku. Aku akan menciptakan banyak ceritaku saat tanpanya, bagaimana hancurnya hatiku, kesepianku, malam dingin ku, nafasku yang memanggil namanya dan air mataku yang mengalir ketika merindukannya.

Tetapi bila aku tiba - tiba hilang. Itu sungguhlah bukan keinginanku. Itu adalah salah satu doaku yang terkabul. Doa yang selalu kupanjatkan pada sang pencipta. Doaku sederhana, semoga aku dapat hidup bahagia, namun bila aku hidup dengan kesedihan yang tiada berakhir aku memohon agar sang pencipta mengambil apa yang telah dipinjamkan pada hambanya yang hina ini. Doa agar orang yang aku sayangi diampuni dosa - dosanya, hidup sehat dan bahagia, dan namamu tak pernah terlupa dalam doa. Saat aku bangun, beribadah sampai saat aku akan memejamkan mata.

Namun bila semua telah terlambat, carilah jejakku, bacalah ceritaku, kenanglah aku, dan hargailah cintaku, jangan pernah bersedih seperti yang kurasakan. Tetapi banggalah, karena ada seseorang yang begitu memujamu, mengagumimu dan sangat menyayangimu.

Senin, 25 Januari 2016

Gunung Es

Di kutub, diujung belahan dunia lain. Dia berdiri kokoh, tegas tak tergoyah. Dia dingin dari ujung kaki sampai puncak. Aku ingin menaklukkannya. Menaklukan gunung es yang seakan dekat, namun begitu jauh.

Berlapis pakaian, sepatu bot, berlapis celana dan berlapis jaket. Aku siap bertempur, aku siap naik, aku siap menuju puncak. Tidak mudah, sangat sulit dan langka bagi yang mampu menaklukannya. Ada yang menyerah bahkan ada yang gugur dalam tidur tiada berkesudahan.

Gunung es itu begitu indah, namun begitu dingin, aku berfikir apakah dia adalah titik bumi, titik terdingin dunia? Tanganku mulai tidak berasa, kebas. Aku tetap melangkah naik, menanjak langkah demi langkah. Setapak demi setapak berusaha sampai pada bibirmu, melihat perutmu dan menciptakan cerita tentang perjuanganku.

Dalam seumur hidup ini keinginanku, mimpiku, menaklukan gunung es yang mengacuhkanku, yang dengan angkuh memalingkan wajahnya dariku dan berada sangat jauh dariku. Berhasil atau tidak, sampai puncak ataupun gugur dalam kebekuan abadi.

Dia yang indah, dingin serta mematikan. Aku tidak mengerti mengapa aku begitu menginginkannya, tapi yang pasti seluruh hidupku akan kupertaruhkan untuknya. Yah aku jatuh cinta pada gunung es itu pada sang pemilik pesona. Pesona yang selalu aku baca, aku tonton dan aku sentuh gambarnya. Pesona yang sering ku serukan dalam hati, fikiran serta doa. Pesona yang selalu bermain dalam ruang hati dalam setiap hembusan nafas.

Namun semua itu hanyalah angan, keinginku menaklukanmu seperti mimpi. Mimpi yang hanya akan tercapai dengan izin sang pencipta. Saat ini aku hanya bisa berharap dan memandangmu dari jauh. Akankah suatu saat doaku terkabul? Bismillah, kabulkanlah keinginan hatiku ya Allah pemilik semesta, amin.

Inikah PHP

Satu kata membuat hati melompat, membuat bibir bernyanyi spontan, dan senyum tak karuan. Namun satu kata juga bisa membuat langit runtuh dan dunia seakan hancur seketika. Setiap kata memiliki makna, mewakili warna dan menawarkam madu atau racun.

Seperti itulah setiap kata yang dipersembahkan bondet pada bembi. Mereka memiliki cerita panjang, suka, duka dan mimpi. Waktu berlalu, kini mereka terpisah jarak. Bondet pergi untuk bekerja, tapi mereka masih sering bertemu, berbagi cerita via suara, dan membuat janji untuk moment istimewa, bembi pun percaya sepenuhnya pada bondet. Bembi berharap dapat bersama lagi seperti sebelumnya tanpa ada keraguan.

Tiba tiba bak tersambar petir, bondet bersama wanita lain. Tapi karena cinta ia hanya berharap satu kata, kata "cinta". Tetapi jawaban mengerikan yang ia dapat "maaf, karena aku telah jatuh cinta pada wanita lain"

Ia menangis sedih, memohon pertimbangan dan kesempatan untuk berusaha membuat bondet jatuh cinta padanya lagi. "Semoga ada keajaiban, dan aku bisa jatuh cinta padamu lagi", bondet berjanji untuk memikirkan kenangan dan mempertimbangkan cinta bembi. Yah itu bagai lirik lagu indah dalam hati bembi, kesempatan, peluang, atupun keajaiban, hatinya merekah senyumnya bertebaran dan ia bernyanyi spontan. Ia akan berusaha, ia akan menunjukkan hatinya, ia siap berdarah berjuang demi cinta.

Namun lagi lagi ia kecewa, janji bertemu dibatalkan dan telepon untuk mendengar suara pun dibatasi. Ia bersedia keujung dunia mencari kisahnya yang terlupa, mencari kemana cintanya yang hilang, mencari apapun untuk mengembalikan memori bondet, mengembalikan tatapannya dan mengembalikan hatinya.

Inikah yang disebut PHP? Memberi harapan yang sesungguhnya tidak ada? Ia berharap akan keajaiban, berharap bantuan Tuhan, berharap takdir mempersatukan.

Meski ia sadar ia sungguh malang, ia seperti pengemis, ia putus asa. Namun ia rela. Karena ia yakin bondet pantas diperjuangkan, karena mereka punya sejarah. Dan karena bondet adalah yang terindah. Dan suatu saat bondet sadar bahwa bembi adalah cinta sejatinya.

Minggu, 24 Januari 2016

Terdampar

Menikmati lautan di malam dengan langit bertahta bintang. Yah ini yang dilakukan bembi. Ia berkeliling dari satu tampat ke tempat lain dengan kapal butut, ditemani sang tersayang.

Ketika mereka terbuai indahnya lautan terdengar suara dari dasar kapal "krek". Mereka saling memandang dan segera memeriksa suara itu. Mereka panik, saling memberi intruksi, saling memerintah dan saling menyalahkan. Hanya dalam hitungan jam kapal mareka mulai tenggelam. Mereka mulai mencari pegangan, pada apa saja untuk bertahan. Pada kayu yang terapung, pada apapun. Sang tersayang berusaha menggapainya dengan cara apapun. Namun arus memisahkan mereka. Terombang ambing tanpa tau tujuan, sendiri, dehidrasi, semua membuatnya letih. Matanya mulai terpejam dan ia pun mulai tak sadar.

Matahari membangunkannya, angin berbisik, dan aroma pasir menggelitik. Akhirnya bembi membuka mata, melihat sekeliling, tempat yang tak dikenal, dan sendirian. Ia segera berjalan mencari bantuan, namun itu seperti pulau tak berpenghuni. Ia lapar, menggigil kedinginan dan pucat. Yah pulau ini sepi kosong tanpa orang lain, tanpa manusia. Ia melepaskan pakaiannya untuk dikeringkan dipakai kembali lalu mencari apapun yang bisa dimakan.

Bembi masuk ke dalam hutan, ia pasrah akan nasibnya. Bertemu hewan buas ataupun memakan tanaman, buah yang beracun. Pepohonan menggores kulitnya, tp ia tidak merasa sakit, dan duri duri pun ikut menusuk kakinya. Ia melihat suatu pohon dengan buah, buah yg ia tidak kenal. Tapi ia tidak perduli, ia berusaha memanjat pohon itu. Dengan pakaian sobek dia duduk dibatang pohon, memakan buah sampai haus dan laparnya hilang. Menunggu sesaat terdiam dan akhirnya yakin, ia masih hidup.

Hutan ini sungguh sepi, ia hanya melihat burung di ujung pohon lain. Ia turun mencoba membuat sinyal bantuan, mencoba membuat api, mencoba segalanya. Ia mencari ujung hutan, namun langkahnya seakan tanpa akhir hingga langit menunjukkan akan berubah warna, mentari akan segera meninggalkannya dan dingin malam menyeringai garang siap melahapnya.

Dalam gelap ia mulai menggigil, berdoa seseorang menemukannya, berdoa sang tersayang selamat sedang mencarinya dan akan membawanya pulang.



Sembunyi

Lepeh berada sendirian di rumah mungil dalam hutan, orang sekitar pun heran namun ini bukan tentang keberanian. Tapi ini tentang sembunyi. Ia sembunyi dari sesuatu, sesuatu yang sangat ditakutkannya. Sesuatu yang tidak akan dimengerti orang lain.

Dengan langkah tertatih ia keluar diam diam membeli rokok dan bir untuk menemani, menemani dalam keputusasaan. Sesegera mungkin ia kembali, menghisap rokok sambil bergetar ngeri. Merenung mengapa ia menjadi seperti ini, tentang ketakutannya, tentang hidupnya, tentang segalanya. Sembari meneguk bir, ia memandang cermin didepannya. Dimana ia melihat sosok yang terkulai lemah dengan tatapan mata tanpa cahaya, redup.

Denyut jantungnya berdetak perlahan, ia meminta bantuan pada Tuhan untuk memberinya mentari yang cerah agar dia tak perlu sembunyi. Agar ia dapat menyapa sekitar sambil tersenyum. Agar ia dapat berjalan dengan tatapan pasti. Melihat warna pada pelangi dan merangkai masa depan.

Hari berganti tapi waktu terasa begitu lambat, hari yang dilalui begitu menyiksa. Ia tak lagi mendengar lagu, tak lagi menonton film, tak lagi membaca cerita dan ia tak lagi dapat menikmati apapun. Ia mulai melukai tubuhnya agar tidak matirasa, agar ia masih dalam kesadaran. Ia tergeletak dilantai nafasnya semakin tersengal, tatapannya semakin memudar.

Namun ia masih berusaha hidup, menanti keajaiban. Menanti akhir dari ketakutan. Ketakutannya akan seseorang, seseorang yang siap menikam jantungnya, dan mengambil hatinya untuk dibekukan.

Jumat, 22 Januari 2016

Tumpukan Buku, CD, dan Cinta

Ratu (30) berjalan tertatih melintasi jalan yang semakin terasa melambat. Melewati jalanan kota yang semakin berpolusi. Sembari mengendarai motornya, fikirannya melayang, pada cerita. Pada masa itu.

Ratu menuangkan segelas wine, malam itu malam minggu. Malam yang begitu indah bagi sepasang kekasih. Duduk bersama dilantai sambil menonton CD, lalu Jendral berkata (30) "sayangku belilah kursi agar lebih beradap" lalu tertawa saling mengejek. Berkeliling kemanapun sesuai kenginan hati. "Aku akan selalu mencerikan cerita yang sering kamu lupa karena memori otak kamu yang minim, hahaha", begitulah candaan Jendral. Seperti film yang baru mereka tonton bersama. Ratu sering menangis karena film - film itu dan Jendral selalu menertawakannya. Mereka tergila - gila pada Buku, CD, pada cerita Cinta. Yah dulu begitu indah.

Berganti masa dimana mereka selalu berselisih paham, berdebat, berteriak, saling memaki dan menyakiti. Ratu sadar akan kesalahannya, namun hatinya bagaikan kumpulan benang kusut. Ia selalu merusaha mencari solusi agar hatinya tenang bersama Jendral. Meski pertengkaran selalu terjadi Ratu selalu setia menemani Jendral kemanapun dan menggenggam tangannya setiap saat. Meski bertengkar Ratu selalu memperhatikan kebutuhan Jendral sampai terkecil bahkan keinginannya yang tak terucap sekalipun.

Kini Jendral pamit pergi, meninggalkan Ratu dalam kesepian yang tiada tara karena Jendral tak kunjung kembali. Ratu bergerak perlahan seakan memapah gunung es melewati seluruh kenangan mencari jejak Jendral mencari aroma yang dirindunya agar kerinduannya berkurang. Ratu yang nestapa, hancur, dan terbuang.

Ratu menyendiri dalam keterpurukan, tidur bersama tumpukan buku dan CD. Dalam kepedihan ia paham, semakin ia mencintai seseorang semakin sakit ia merindukannya. Ratu berharap keajaiban muncul, mengembalikan Jendral, memeluknya, menciumnya dan menggenggamnya tangannya kembali selamanya.
Untuk itu ia akan bertahan untuk menunggu sang Jendral pemilik hati.