Lepeh berada sendirian di rumah mungil dalam hutan, orang sekitar pun heran namun ini bukan tentang keberanian. Tapi ini tentang sembunyi. Ia sembunyi dari sesuatu, sesuatu yang sangat ditakutkannya. Sesuatu yang tidak akan dimengerti orang lain.
Dengan langkah tertatih ia keluar diam diam membeli rokok dan bir untuk menemani, menemani dalam keputusasaan. Sesegera mungkin ia kembali, menghisap rokok sambil bergetar ngeri. Merenung mengapa ia menjadi seperti ini, tentang ketakutannya, tentang hidupnya, tentang segalanya. Sembari meneguk bir, ia memandang cermin didepannya. Dimana ia melihat sosok yang terkulai lemah dengan tatapan mata tanpa cahaya, redup.
Denyut jantungnya berdetak perlahan, ia meminta bantuan pada Tuhan untuk memberinya mentari yang cerah agar dia tak perlu sembunyi. Agar ia dapat menyapa sekitar sambil tersenyum. Agar ia dapat berjalan dengan tatapan pasti. Melihat warna pada pelangi dan merangkai masa depan.
Hari berganti tapi waktu terasa begitu lambat, hari yang dilalui begitu menyiksa. Ia tak lagi mendengar lagu, tak lagi menonton film, tak lagi membaca cerita dan ia tak lagi dapat menikmati apapun. Ia mulai melukai tubuhnya agar tidak matirasa, agar ia masih dalam kesadaran. Ia tergeletak dilantai nafasnya semakin tersengal, tatapannya semakin memudar.
Namun ia masih berusaha hidup, menanti keajaiban. Menanti akhir dari ketakutan. Ketakutannya akan seseorang, seseorang yang siap menikam jantungnya, dan mengambil hatinya untuk dibekukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar