Kamis, 28 Januari 2016

Sesaknya Merindukan Bulan

Bembi terlihat murung memandang jendela. Menatap sesuatu yang terlihat jauh. Bulan.

Malam ini bulan terlihat indah, apakah ia menebarkan keindahan keseluruh pelosok bumi? Sampaikah keindahan itu padanya? Namun keindahan bulan tak dapat menghilangkan kelam malam yang masih ia rasakan.

Dadanya sesak, sungguh sakit. Adakah yang mengerti? Mengapa? Ntah bagaimana cara untuk menghilangkan sakitnya, obat, rokok, minuman atau apa? Hanya ia yang tau, ia sang rembulan yang jauh. Rembulan lain yang dirindukan.

Bembi sungguh tak mengerti, ia berharap terbangun dari mimpi ngeri yang menyakitinya. Mimpi yang menghisap hidupnya dan membunuhnya perlahan. Siang ataupun malam sudah tidak penting. Ia sudah tidak memiliki gairah, motivasi ataupun semangat lagi. Langkahnya semakin pelan, tatapannya semakin buram dan otaknya semakin melemah.

Kerinduan menghancurkannya. Menghancurkan segala asa yang dikumpulkannya dengan bersusah payah. Asa yang terbuang, asa yang dengan sabar dipungutnya dari tempat sampah, dari selokan, parit sampai TPA.

Dalam sakit dan tersiksa, ia tak mau menyerah. Bembi terus memandang rembulan yang ia rindukan. Oh rembulan rasakanlah kerinduan ini, dengarlah jeritan memanggil namamu, obatilah sakit yang dirasakan. Hentikan penyiksaan ini. Oh rembulan berikanlah sedikit cahayamu, sedikit saja. Karena meski hanya sedikit itu akan cukup memusnakan rasa sakit dan kelam malam yang ia rasakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar