Akhirnya aku mengalami pendarahan yang tidak wajar. Seorang dokter spesialis kandungan mengatakan salah satu penyebabnya adalah stres. Dan yah akhirnya akupun mengalaminya.
Aku ingin berbincang pada sang bulan yang indah, namun ia begitu jauh. Dan ia pun takkan perduli. Biarlah rasa ini kulalui sendiri. Seperti aku yang sedang menerima hukuman.
Lebih beruntung seorang narapidana yang mendapatkan amnesti maupun keringanan dalam bentuk lain, dari pada aku yang tergeletak disini tanpa ampun dan iba sama sekali.
Semalam aku membaca berbagai hukuman kejam dibeberapa sudut dunia. Sungguh ngeri, membuat merinding. Kadang orang membuat suatu kesalahan, dan setiap orang memiliki kesalahan. Namun nyawa adalah titipan sang maha pencipta, dan ciptaannya akan kembali padanya. Itu pasti. Manusia dilengkapi rasa, hati, pikiran dan seluruh fitur sempurna dibandingkan makhluk lain. Tapi dengan menghukum tanpa ampun, mencabut nyawa dengan paksa adalah hukuman yang pantas? Seperti juga yang kurasa sekarang, cabikan, cambukan dan tusukan pada hatiku yang kurasa pada setiap jantungku berdetak karena cintaku yang direnggut.
Sang maha pengampun selalu memberikan kesempatan, untuk memaafkan pada setiap umatnya yang dengan sepenuh hati memohon ampunan. Aku memohon ampunan pada - Nya. Pada sang pemilik karena aku jatuh cinta padamu bulan. Cinta yang akupun tak paham. Cinta yang kurasa sangat nyata. Cinta yang menyadarkanku, ternyata betapa aku sungguh lemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar