Masih sering terbangun oleh bayangmu, membuka mata, otak berfungsi. Langsung inget kamu. Dadaku nyeri, akupun langsung berdoa untuk kebaikanmu disana. Pernahkan bayangku membangunkanmu sayang? Pernahkah bayangku bermain dalam mimpimu? Atau masihkah aku ada dalam pikiranmu?
Ini aku, bukan kamu. Aku yang selalu ingat kamu dimana saja, kapan saja, sejak terbuka mata, sampai akan memejamkannya. Bahkan dalam mimpi pun masih kamu yang menari - nari. Aku bingung bayangmu ada diseluruh benda yang kulihat ataukah memang bayangmu telah menempel di cornea dan pupil mata.
Rasa rindu tidak dapat padam dari hatiku. Bahagianya ketika mendengar suaramu, berbincang denganmu, berkirim pesan. Mungkin ini adalah perasaan sepihak, mungkin kamu tidak merasakan yang sama. Mungkin.
Begitu minimnya sekarang kata - kata darimu untukku. Aku yang telah hilang. Aku, bayangan pengganggu. Aku begini karenamu. Kamu, seseorang yang begitu berharga untuk kulepaskan. Seseorang yang sangat berbeda, seseorang yang sangat unik, seseorang yang tidak dapat dibandingankan dengan siapapun di dunia ini.
Bukannya aku tidak mencoba sayang, aku selalu melakukan apapun permintaanmu. Bahkan ketika kamu memintaku melepasmu, bukannya aku tidak mencoba. Tapi semakin aku mencoba, semakin aku memaksa diriku melepasmu, aku semakin merasa sakit. Sakit yang sungguh tidak pernah kukira. Kamu pasti tau apa yang kurasakan, namun kamu tidak lagi perduli. Kamu tidak perduli aku sakit, menangis maupun bersedih.
Kamu berlari mengejar kebahagiaanmu, kamu meninggalkanku semakin jauh. Melupakanku yang selalu mengikutimu dan bersamamu kemanapun kamu melangkah. Mungkin bagimu aku adalah masa lalu yang ingin kamu lupakan. Mungkin.
Seseorang berkata "biarkan seseorang mencuri pacarmu, karena cinta sejati tidak akan bisa dicuri". Aku masih berharap kamu cinta sejatiku, atau aku cinta sejatimu. Namun begitu mudahnya kamu melepasku, begitu mudahnya kamu meninggalkanku dan begitu mudahnya kamu terbuai oleh kekagumanmu akan aroma yang lain.
Aku tidak pintar, aku tidak memiliki banyak kesamaan denganmu, aku tidak memiliki wawasan yang luas, aku bukan seseorang yang hebat, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Namun aku berharap kita saling melengkapi. Kamu dilapangan dan aku strategi ekonomi. Kamu kapten dan aku asistennya. Begitulah kita. Bila aku selalu mengikutimu tanpa berfikir maka kita tidak akan punya tabungan, tidak akan punya rumah dan lainnya.
Aku tidak pelit sayang, aku berhemat, aku memikirkan masa depanmu. Bagaimana agar kamu bisa menabung. Berinvestasi. Rumah kita adalah tabunganmu sayang. Kamu akan merasakannya nanti. Aku selalu ingin kamu mencapai semua mimpimu namun tidak melalaikan hari tuamu nanti sayang. Aku begitu karena aku sayang padamu.
Aku memberimu kesempatan berkeliling indonesia, dunia, aku ingin menemanimu kemana pun kamu melangkah, hanya saja waktunya tidak tepat sayang. Aku memberimu kesempatan untuk memuaskan keinginanmu, bukan untuk agar kamu melepasku. Aku memberimu kepercayaan, memberimu hatiku bukan untuk kamu buang namun untuk kamu simpan dan jaga.
Sekarang hatiku sudah tidak penting, ia sudah tidak bernilai dan sudah tidak berharga. Aku sangat bersedih pada situasi ini, situasi dimana hatiku tidak mampu menyentuh hatimu, memandang matamu, membelai wajahmu dan memelukmu.
Ini aku, aku seseorang yang menunggu, dan terus akan menunggu.