Minggu, 06 Maret 2016

Mari

Yah, mari kita abaikan perasaanku, carilah gairahmu. Aku akan tetap memandangmu, mencoba siap memapahmu bila kamu terjatuh, aku akan selalu ada disini. Mengawasimu. Mengamati senyummu, mengartikan dan menanti tawa bahagiamu.

Aku tidak akan pernah menyerah untukmu, aku hanya inginkan kamu bahagia. Bukan senyum atau tawa palsu.

Kamis, 03 Maret 2016

Oh

Baru memandang beberapa foto lama.

Oh... Aku sungguh menyayanginya. Sangat!

Rabu, 24 Februari 2016

Aku menunggumu, di halte

Aku ingin bersamamu, kemanapun, menuju tempat baru, kita berdua. Pertanyaannya, mau kah kamu bersamaku? Kita melangkah bersama, menuju hari esok yang lebih baik, melupakan masa lalu yang menyakitkan.

Aku masih menunggumu, dan akan terus menanti. Di halte bus, dimana bus akan membawa kita menuju lembaran baru. Jam demi jam, hari demi hari, bulan demi bulan. Aku masih di sini. Menunggumu.

Kita akan mencari kebahagian baru, namun tidak akan ada kata kita bila hanya aku. Aku akan berusaha, namun bagaimana dengan kamu? Masihkah aku memiliki nilai bagimu? Aku inginkan kebahagiaanmu, senyummu, tawamu, cahayamu. Tidak inginkah kamu melihatku bahagia, tersenyum tertawa? Aku ingin menghabiskan masa tuaku bersamamu, kamu?

Aku tidak akan menuntutmu, tidak akan menggenggammu sangat erat, aku tidak akan menyakitimu. Aku mempercayaimu dan akan terus seperti itu, jangan kecewakan aku lagi sayang, jangan sakiti hatiku. Aku ingin mengobati luka hatimu, maukah kamu mengobati luka hatiku? Sebelumnya kita terjatuh, terluka. Maukah kamu untuk bangkit dan melangkah bersama? Bersama kita akan membuat langkah, mimpi, target, rencana jangka panjang, liburan, keliling dunia, kita akan menyibukkan diri dengan banyak cara untuk bahagia tanpa menyisakan waktu untuk memikirkan masa lalu.

Hatimu adalah sesuatu yang sangat indah bagiku. Aku percayakan hatiku padamu. Siapkah hatimu menuju kehidupan yang baru bersamaku. Ataukah ia masih dibayangi keresahan, kesedihan, kekecewaan atau pengharapan akan tujuan yang lain?

Mungkin aku terasa kekanakan, alay maupun childish. Namun taukah kamu sayang cinta tidak mengenal usia, seorang kakek akan merasa muda karena cinta, anak smp menjadi sangat dewasa karena cinta. Cinta akan membuat gairah yang sangat gila. Ntahlah aku pun tidak sanggup menahannya.

Aku begitu aktif, namun kamu begitu pasif. Aku tidak tau mengapa aku selalu ingin mendengar suaramu, berbicara denganmu. Tanpa kamu sadari, tanpa kamu pahami hatiku begitu perih menahan kerinduan. Memelukmu, menciummu, menggenggamu, merasakan aromamu. Itu karena kamu telah menjadi candu. Candu hatiku.

Sayang taukah kamu, aku tidak dapat menggapai bintang dilangit. Aku juga akan kedinginan di puncak himalaya. Aku juga tidak sanggup hidup terapung dilautan seumur hidup. Aku akan mati sayang. Yang aku butuhkan kamu, hanya cintamu. Bukalah hatimu, persilahkan aku masuk dan mewarnai kelam hatimu, izinkan aku menebarkan aromaku. Berikan kesempatan pada kita, untuk bahagia.

Selasa, 23 Februari 2016

Menanti kerinduan datang dalam pelukan

Aku akan survive, aku akan menantimu meski aku harus menahan kerinduan yang terpendam. Kasih yang kunanti tak kunjung datang. Aku masih harus menahan kerinduan yang kurasakan. Sayangku kasihku belahan hatiku. Datanglah dengan senyuman, datanglah dengan membawa kebahagian. Aku sungguh merindukan pelukanmu, aku ingin merasakan kasihmu.

Ntah mengapa aku merasakan cahayamu meredup, datanglah sayang aku akan membuatmu bersinar lebih terang dari sebelumnya. Aku telah mencoba memahami apa yang mengganggu pikiranmu, apa yang kamu cari. Sayangku, datanglah ke pelukanku. Kamu akan merasakan ketenangan dan kenyaman. Bersandarlah pada bahuku, lepaskan semua beban hatimu. Mari kita merangkai hari esok. Mari ini bahagia, mulai hari ini.

Masa lalu adalah pelajaran, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Segala sesuatu berawal dari niat sayang. Mulailah berniat, lalu kita akan berusaha bersama. Janganlah takut melangkah, setelah langkah pertama akan ada langkah sedua dan seterusnya. Janganlah ragu untuk bersamaku sayang, karena melangkah bersamaku adalah awal kebahagian baru kita, percayalah.

Kita adalah sepasang burung yang telah melewati angkasa bersama, kita telah melihat dunia dari bermacam sisi. Semua adalah pelajaran sayang. Kita akan lebih baik dari sebelumnya. Oh sayangku, percayakan hatimu padaku. Aku akan membuatnya bergetar, aku akan membuatnya hangat. Aku akan menempatkannya di tempat terindah. Di hatiku.

Hujan kerinduan, hujan kasih sayang, hujan perhatian, aku akan membanjirimu sayang!

Seakan musim semi akan menghampiri, hatiku begitu hangat sampai sampai aku tak memikirkan apapun  selain padanya. Ia yang selalu ku tunggu. Ia mengabarkan akan menemuiku. Ia yang sangat kurindukan. Ia pemilik hatiku.

Aku tau akan sangat sulit mengisi hatinya, mengembangkan senyumnya, mengembalikan jiwanya padaku. Ia kasihku yang beku, dingin seperti puncak himalaya. Namun taukah sayang, kehangatanku akan menghancurkan ice sedingin apapun itu. Aku memilihnya, aku mencurahkan segenap kasih padanya. Aku mempercahayakan kebahagiaanku padanya.

Ia datang padaku dalam kondisi luka parah, aku akan merawat sayangku. Aku akan menyembuhkannya seperti sebelumnya. Bahkan ia akan lebih sehat dan lebih bahagia. Namun sungguhkah kesempatan itu ada? Tatapannya terasa begitu kosong. Tawanya begitu datar. Dan panggilan begitu sepi.

Sejenak aku merangkai mimpi yang baru, namun aku sungguh takut mimpi itu akan memuai lagi. Aku tidak mengenalnya lagi karena ia yang telah berubah. Hatinya adalah yang paling penting bagiku. Kemanakah hatinya ingin melangkah? Aku selalu menunggunya, menunggunya datang namun bukan tanpa jiwa.

Ia adalah cahaya yang begitu mempesona, begitu menyakitkan melihatnya redup. Janganlah melangkah karena keterpaksaan sayang. Adakah bayangan yang menghantuimu? Adakah keinginan yang lain selain disisiku? Aku ingin kebahagiaannya selalu.

Saat ia datang dengan cahaya dan jiwa yang bergelora, aku akan mengirimkan badai cinta, menghujaninya dengan kasih sayang, menghujaninya dengan perhatian. Dan aku akan membanjiri hidupnya dengan kebahagiaan. Tak kan ada yang lain, hanya ia.

Selasa, 16 Februari 2016

Song for today

Ruth Sahanaya - Kaulah Segalanya: http://youtu.be/0Ie-HcFiEsI

Bembi yang dilupakan, bembi yang hilang

Aku tersenyum, tertawa bukan berarti aku melupakanmu. Aku hanya ingin menenangkan hatimu. Langkahku masih dijalan yang aku pilih. Aku masih merawat milik kita. Memperbaiki, merenovasi, aku memperindah semua yang kita punya. Meski aku sendiri tanpamu.

Kamu, berjalan tanpa perduli padaku, kamu terus berusaha menghapusku, tanpa memperdulikan aku ada, menunggumu. Kebahagiaanmu menghapus seluruh jejakku. Semuanya hilang, wajahku, senyumku, tawaku, suaraku, bahkan namaku. Kami menghapus semua, mungkin juga seluruh fotoku. Aku ingin kamu bahagia, namun bahagiamu membunuhku tanpa ampun.

Aku tidak percaya cinta dan janjimu sungguh rapuh, sorotan mata yang pernah menusuk jantungku padam tak bersisa. Aku ada namun tanpa arti. Aku terus membohongi diriku dengan percaya pada memoriku, tentang kasihmu, tentang kamu yang akan kembali. Sepertinya itu hanya sebuah mimpi. Apakah kamu ingin aku menjadi lemah, seseorang yang menyerah. Apakah menurutmu sayang dan cintaku segampang, semudah dan selemah itu? Ini aku bukan kamu.

Aku ingin menuntutmu, karena kamu telah membuat cintaku begitu dalam. Kamu harus bertanggung jawab. Ini semua adalah kesalahanmu. Mutlak. Karena pesonamu aku tidak sanggup berpaling. Aku tidak dapat menggambarkan seperti apa sakit yang kurasakan. Karena sakit yang kurasa, kamu tidak akan sanggup menahannya.

Tentu saja kamu tidak akan perduli padaku, aku tidak berharga. Aku seperti sekuntum bunga yang kamu beri, semakin rapuh, semakin layu, hanya menunggu untuk gugur dan mati. Untuk kebahagiaanmu aku rela, namun taukah kamu, ketika kamu menghapusku, itu adalah hukuman terkejam yang aku terima.

Aku bembi, sampai kapan pun, dimanapun. Bembi yang menunggu, bembi yang selalu merindu, bembi yang menjaga hatinya untukmu, aku adalah bembi. Bembi yang pernah kamu ucapkan kata cinta dan kamu rindukan, bembi yang dulu sering kamu peluk, seseorang yang pernah kamu inginkan untuk menghabiskan masa tua bersamamu. Ini aku seseorang yang telah kamu namai.... Bembi.

Minggu, 14 Februari 2016

Harus bagaimana lagi?

Apa yang terjadi, mengapa rasa ini muncul, rasa begitu menganggu, rasa yang sungguh membuatku tidak tenang. Ntah mengapa rasa sesak ini begitu nyata. Aku tidak tau mengapa rasa ini muncul dan tidak mau pergi. Apa yang kamu lakukan disana, apa yang kamu rasakan, apa yang terjadi padamu? Mengapa rasa ini tidak membiarkanku tenang, sementara aku menginginkan ketenangan bagimu. Apakah ketenanganmu akan menjadi kegelisahanku, kecemasanku, sakitnya sesak di dadaku?

Aku tidak ingin berfikir, tetapi apakah kamu pernah berfikir apa yang kamu lakukan akan berdampak padaku? Yah kamu pasti tidak akan berfikir itu, kamu tidak akan perduli karena kesakitanku, aku yang merasakannya, bukan kamu. Sungguh aku tidak ingin merasa sakit, hanya saja sakit yang kurasa muncul tidak bisa ku tolak.

Aku inginkan kebahagiaanmu, tapi ntah mengapa sakit yang kurasakan tidak ingin meninggalkanku. Sakit yang sungguh ingin ku usir. Bagaimanakah agar sakit ini hilang? Kamu berkata ikhlas, aku tidak tau apa yang harus kulakukan lagi untuk itu, jangankan ikhlas, aku pun telah pasrah, namun sakit itu sungguh tidak sedetikpun meninggalkanku.

Aku mencoba semuanya, percayalah. Tapi apa yang kudapat, hari ini pun keluargaku menyebut namamu. Kakakku berkata "memasak sayuran ini mengingatkan padanya, ia sangat suka, ia akan berkata enak sekali, ia akan langsung datang, ia akan makan lebih sepiring" mereka menceritakan responmu, reaksimu, kebiasaanmu. Ibuku, bapakku, palekku, semua ikut bersuara menyebut namamu. Aku hanya bisa berkata, kamu asam urat tetapi tetap bandal memakannya, sayur jengkol. Sambil tersenyum sewajar mungkin untuk menutupi kesedihanku.

Berada dikeramaian juga tidak menyelamatkanku dari kesepian, musik, film semuanya percuma, kerinduanku juga tidak pernah sampai pada hatimu. Sentuhan, belaianku, panggilanku tidak ada rasanya lagi bagimu. Kamu telah mati rasa padaku. Bagimu aku telah mati, hilang, lenyap, memuai, terhapus, terlupakan.

Aku mencoba segalanya, percayalah. Aku mencoba semua yang ku bisa untuk sedikit saja mengalihkanku dari kerinduan, dari kesepian. Namun tidak ada satupun yang berhasil mengusir bayangmu. Berlalu sedetik saja lalu wajahmu senyummu, bayanganmu kembali menari di pikiranku.

Aku sudah dibuang, aku kini berada di tempat sampah. Aku sudah ikhlas. Tidak bisakah sakit ini pergi meninggalkanku sendiri. Mengapa aku terus merasa sakit, lalu kepada siapa kesakitanku dapat kubagi? Aku tau penyebab semua ini, hanya karena satu hal yang sangat sederhana. Hanya karena rasa sayangku. Aku hanya ingin menyimpanmu selalu dihatiku, itu saja. Sakit tolonglah tinggalkan aku, aku tidak akan meminta banyak. Aku hanya ingin menyimpannya, menunggunya, menyayanginya. Aku tidak akan menuntut apapun lagi. Aku pasrah.

Sabtu, 13 Februari 2016

Bicara pada tembok, pada lukisan, pada bayangan

Hari ini disini, memandang kalian, gadis gadis bali yang sedang menari, jam gadang yang berdiri dengan kokoh, gajah yang bermain air, twin tower, kl tower. Hanya kalian yang bisa dipandang, aku akan bercerita pada kalian yang tidak memiliki hak ataupun kemampuan untuk menolak.

Banyak yang berubah, tidak hanya perasaan, jalanan juga berubah, box tempat pembuangan sampah langganan kami sudah tidak ada berganti papan larangan. Lingkungan sekitar juga semakin ramai tapi ntah mengapa suasana terasa begitu sepi.

Ini masih tentang bayangan yang kurindukan, aku sungguh mengharapkan ketenangannya, kebahagiaannya meskipun itu membuatku sedih karena aku semakin hilang, benar benar hilang. Setiap hari aku merindukannya, aku ingin memerintahkan angin membelai rambutnya lalu membisikkan namaku. Namun apalah dayaku. Itu hanya angan kosong. Segala yang kulakukan sia sia. Semua kenangan sudah masuk kotak sampah. Itulah aku baginya.

Ia kembali kekehidupan lamanya, bersenang senang, berfoya foya, tidak perduli pada harga. Ia mencari kebahagian tanpa batas. Tidak seperti yang ku berikan, yang ku tunjukkan, yang kuajarkan, ia tidak memikirkan masa depannya, tidak menabung, tidak mengasuransikan kesehatannya. Ia sungguh melupakan segalanya. Itulah kebahagiaany yang ia cari, kebahagian yang berbeda dari sudut pandang kami. Pelit, itulah ku dimatanya.

Ia tidak perduli dengan apapun, ia hanya mengikuti keinginannya, kepuasaannya, hal yang menurutnya membuatnya bahagia.

Aku tidak pernah merayakan hari kasih sayang, karena sejak aku bertemu dengannya setiap hari adalah hari kasih sayangku padanya. Meskipun aku marah, kesel, sebel, aku selalu sayang padanya. Aku selalu menggenggam tangannya. Aku sering meninggalkannya sendiri untuk bertemu orangtua, bekerja, bertemu teman dan lainnya, namun aku selalu berusaha cepat pulang untuknya, ngebut, membawa makanan untuk berbagi, yah aku selalu memikirkannya, sayangku besar padanya. Sangat.

Kami pernah berpisah sebelumnya dimana hal tersebut sungguh menyiksaku, membuatku depresi, aku berusaha mencari solusi untuk bersamanya. Namun ternyata rencana kami berbeda, ia sudah tidak menulis namaku lagi direncananya. Mengembalikan semua barangku, tanpa menyisakan sedikitpun untuk mengingatkan betapa besar sayangku padanya.

Aku sudah tidak bisa lagi membuat kejutan di ulang tahunnya, yah meskipun aku sangat sebel karena ia selalu merusak kejutanku. Namun sekarang aku sangat sedih tidak bisa melakukannya lagi. Aku selalu berusaha memberinya yang terbaik, memberikan apa yang ia inginkan, memberikan kejutan yang akan membuatnya tertawa lebar dengan suara khas dan espresi yang tidak terlupakan. Ia sang pemilik senyuman gigi patah yang sungguh kurindukan.

Aku. Aku seorang pemuja bodoh yang tunduk pada cinta. Seorang yang hanya bisa mendoakannya bahagia, seseorang yang hanya bisa memandang. Seseorang yang menelan kerinduannya sendiri.

Aku tidak akan melupakannya, aku akan menunggunya, bersama kalian, kita akan menantinya bersama.

Kamis, 11 Februari 2016

Tenang disana

Terjaga pukul 2 dini hari. Ingin bercerita banyak, hanya saja otaknya berasa kram. Ia tidak dapat berfikir. Iya hanya ingat, ia menangis hingga tertidur. Ia menjadi sungguh bodoh, ia tidak mengerti. Ia hanya ingin menanti.

Malam ini ia bermimpi buruk, sungguh mimpi yang menyedihkan, mimpi yang seakan nyata. Apakah gelangnya yang putus adalah suatu pertanda? Ia tidak ingin menduga, ia tidak perduli, ia hanya ingin menunggu dan terus menunggu.

Ia ingin seseorang tenang disana, ia selalu berkata "iyah" namun air matanya tak berhenti mengalir, sesak didadanya membuncah. Nyeri.

Ia terdiam, ia tidak bergairah, ia tidak bersemangat, ia hanya merasa sedih yang berkepanjangan. Ia merasa semakin hilang, ia putus asa. Tapi ia sungguh keras kepala, yah... ia hanya ingin menunggu dan terus menunggu.

Rabu, 10 Februari 2016

Hujan deras = Banjir = mungil

Oh hujan deras...

Bagaimana aku bisa tidak mengkhawatirkannya..

Mungil adalah mimpi kami, sebelumnya, mimpiku sampai sekarang, masih, aku sendiri, mungkin.

Hatiku sungguh resah, tidak tenang, oh aku sungguh memikirkannya, waktu begitu lambat, aku akan datang padanya, akhir minggu ini, bersabarlah sayangku, bertahanlah.. aku akan segera berlari menemuimu. Mungil kamu harus kuat, kamu harus bertahan, kamu harus tangguh, jadilah sepertinya.

Kita akan menghabiskan waktu bersama, aku akan menceritakan isi hatiku, kita akan saling menghangatkan. Aku dan kamu, kita akan saling support, kita akan menunggu. Kita akan merindu. Bersama yah kita bersama..

Karena itu jangan biarkan hujan menenggelamkanmu. Bertahanlah sampai ia datang, ia kembali, mesti ntah kapan....

Hati

MYTHA - AKU CUMA PUNYA HATI (LIRIK) HD: http://youtu.be/YNbqvIgCWVI

Andai

Tangga - Kesempatan Kedua: http://youtu.be/zLV1MVdKP7E

,

Marcell - Takkan Terganti (Official Video): http://youtu.be/tOD_hUEWGnY

Hello again, it's you and me

Bon Jovi - (You Want To) Make A Memory: http://youtu.be/nWuZMBtrc1E

Teriak

Pengen teriak kenceng kenceng......

Kangeeeeeennnnnnnnnnnnnnnnnnn kamuuuuuuuuuuuuuuuuuuu bondetttttt

Mungil yang kedinginan, sendiri

Tubuh bembi basah, sepatu, jaket, seluruh perisainya tumpul. Ia kedinginan, ditambah luka pada kakinya, lengkap sudah yang ia lalui hari ini. Beruntung ia masih ditemani sahabatnya yang luar biasa. Bembi sudah sangat takut banjir melumpuhkan sang sahabat, banjir dimana mana, hujan deras yang tak kunjung berhenti. Akhirnya ia pun sampai dirumah dengan selamat, sahabat yang sungguh tangguh, sama seperti kamu yang disana.

Meskipun ia kedinginan, meskipun ia kesepian, meskipun ia sedih. Ada yang yang sangat merisaukannya. Ia memikirkannya, khawatir padanya. Si mungil. Bila hujan turun seperti ini bagaimana si mungil? Si mungil pasti kedinginan, merindu kedatangan, sendirian, basah, terabaikan. Ia sungguh resah, mengisi ruang yang tersisa. Bembi pun merasakan yang sama. Bembi merindu. Sangat.

Oh mungil bertahanlah, bembi akan segera menemuimu. Ia takkan pernah menjualmu, menyerahkanmu kepada orang lain. Meskipun ia diperintahkan sang penguasa. Ia akan selalu melindungimu, menjagamu, ia akan selalu memberikan waktu dan perhatiannya padamu. Ia takkan melupakanmu. Kamu adalah mungil kesayangannya, tempat berbagi rasa dan perasaan. Kamu sahabat teristimewa. Kamu harus percaya, ia takkan sanggup meninggalkanmu, mengabaikanmu. Meskipun orang lain melupakanmu, meninggalkanmu, ingin membuangmu, bembi akan berjuang mempertahankanmu, kenapa? Karena kamu adalah sebahagian kehidupannya, setengah dari hatinya. Tempat penyimpanan harta karunnya.

Hujan tolonglah jangan biarkan mungil kehujanan seorang diri, tunggulah saat bembi menemani dan merawatnya, meskipun hanya tersisa mereka berdua. Ia akan menjaganya, ia adalah harapannya. Tempat bembi menunggu. Ia adalah tempat melepaskan seluruh perasaan, ia adalah saksi bisu. Hujan bagaimana bembi bisa tidur malam ini bila kamu tak berhenti.

Mengertilah bembi sungguh khawatir. Ia ingin ada disisinya selalu, namun situasinya tidak segampang itu, bukan masalah tentang keberanian, tapi disini masalahnya ada izin. Ia tidak akan diizinkan menemani seorang diri. Itulah mengapa ia hanya bisa menemaninya ketika ia memiliki waktu luang. Mungkin waktu luang yang dipilih orang lain adalah menikmati sunset dipantai, menikmati makanan dan minuman di cafe, nonton di bioskop, mendengarkan musik. Waktu luang yang ia pilih adalah menemani si mungil.

Ntah apa yang terlintas di pikiran bembi, angan angan kosong. Meskipun ia kedinginan, ia putih sepucat bengkoang, bibir membiru karena hujan, meskipun ia lelah, semua akan sirna ketika ia melihatnya, ia pasti akan merasa hangat, nyaman, karena tidak akan ada dingin yang mampu mengalahkan rasa dihatinya. Ia seseorang yang telah menciptakan keberadaan si mungil, namun ia juga yang meninggalkan dan meminta untuk membuangnya. Ia yang terlupa bagaimana hangatnya, bagaimana canda dan tawa yang menggema sampai sarana permainan kartu yang menegangkan. Oh bembi ingin menelponnya, ia sungguh merindunya, ingin berbagi cerita, namun ia tidak memiliki keberanian lagi. Ia lemah tanpa daya.

Hujan tolonglah, ia sungguh resah. Karena saat ini hanya ia yang memikirkannya. Ia tanpa sang kekasih. Ia yang selalu merindu, terus menerus, seorang diri.

Selasa, 09 Februari 2016

Warna yang tak berwarna, rasa yang tak berasa

Bagaimanakah caranya menghilang? Bagaimanakah caranya sembunyi? Bagaimanakah caranya lari? Bagaimanakah caranya pergi? Bagaimanakah caranya menghilangkan ingatan? Bagaimanakah caranya menciptakan kebahagiaan meskipun itu palsu atau sesaat?

Banyak cara yang dilakukan sebagai pelampiasan keputus asaan. Keletihan, kepenatan. Ketika kesedihan menghantui, ketika mimpi buruk berkepanjangan. Ketika musim dingin tiada berakhir. Hujan terus menghujam.

Sesaknya menahan kerinduan, perihnya menjadi pemuja, kelamnya menjalani kehidupan tanpa asa, hidup dalam kesendirian, kehampaan dan kegelapan. Berjalan tanpa tujuan, memandang tanpa arah. Langit sudah tak berbintang, makanan berasa hambar. Senyap.

Bukan hanya perhiasaan yang imitasi, rasa, janji, cinta, kesetiaan, sayang, kekasih, warna, aroma, kebahagian, senyuman, tawa, kerinduan bahkan harapan. Sekarang semua bisa dipalsukan.

Hanya hati yang tidak akan bisa tertutupi, hati akan memancarkan isinya. Cepat atau lambat, lembut atau keras, hati akan menunjukkan keasliannya. Bagaimanakan melihat isi hati? Hati akan dapat segera dirasakan, hati akan menunjukkan jati dirinya. Meski terkadang resah, bimbang, gundah, banyak godaan yang akan merayu. Merayu untuk menggoyahkan.

Mana yang lebih baik, memiliki wawasan tinggi tanpa hati atau berhati tulus tanpa wawasan? Pilihan itu akan kembali kepada masing masing pribadi.

Bagaimana jika pelangi hanya memiliki warna hitam, rasa hanya ada pahit, aroma hanya memiliki busuk dan mimpi hanya mimpi buruk. Tentu saja tidak akan ada puding warna warni yang indah dengan rasa yang menggoda, ia hanya akan menjadi seperti bayangan yang terlewati. Senyum yang terlupakan, kasih yang terbuang atau kerinduan yang tak tersalurkan.

Candu Tangkai Bunga

Kadang suatu moment meski sejam, semenit ataupun sedetik bisa menjadi suatu hal yang membahagiakan. Itu yang terjadi pada bembi. Suara laksana setangkai bunga yang ia terima pada waktu yang tidak pernah ia sangka, mengejutkannya, membuat hatinya melompat, ia menahan senyum sebisanya, ia tidak ingin ada yang melihatnya menjadi gila, salah tingkah, ia mencoba tetap tenang.

Untuk sesaat hatinya menjadi begitu hangat, meskipun cuaca sedang sangat dingin karena hujan tak kunjung reda. Meskipun ia mengenakan pakaian dan sepatu basah. Ia segera mengumpulkan tangkai demi tangkai dan menaruhnya di vas yang telah ia sediakan. Untuk sesaat ia yakin ia cukup bahagia.

Ia tidak ingin merusak otaknya lagi dengan pikiran - pikiran negatif. Ia hanya memejamkan mata, dan menanamkan dihatinya bahwa dia akan baik saja. Hari ini, esok, lusa dan seterusnya. Ia tersenyum pada kumpulan bunga yang ia pandang untuk menyimpan saat dimana tangkai - tangkai tersebut tercium begitu harum, aromanya, keindahannya, warnanya. Ntah sejak kapan tangkai - tangkai tersebut menjadi candu. Candu yang seakan telah bersatu dengan darah yang mengalir di arterinya. Candu yang begitu memabukkan.

Ia sangat takut menduga, ia juga takut untuk mengharap, ia takut pada kekecewaan, ia tidak lagi ingin bertaruh. Mendapat tangkai bunga yang lain. Ia pasrah pada suara, pasrah pada langit, ia pasrah. Saat ini, ia selalu merasa ketagihan, setiap saat, setiap menit, setiap waktu yang ia lalui. Ia sendiri sakit karena ketagihan yang tak sanggup dikendalikan, sakit yang tidak sanggup ia obati sendiri. Sungguh ketidakmampuan yang  menyedihkan.

Senin, 08 Februari 2016

Kerinduan yang terabaikan

Hari ini hujan deras sejak pagi sampai sore. Deras. Banjir dimana - mana. Bembi sangat mengkhawatirkan dapur mungil kesayangan, kamar dan teras. Pagi ini ia mengendarai motor butut dengan banjir hampir di tiap titik rawan kota medan, jl. Sm raja, jl. Gelas, lapangan merdeka. Semua rata dengan air, lubang, got, parit, tidak ada yang terlihat lagi,

Kemana pun ia pergi ia selalu membawa pemberian bondet, kalung, gelang sampai cincin. Ia menari dengan kenangannya sendiri, ia melakukannya agar merasa bondet masih didekatnya. Meskipun ia sadar akan menyataan dimana ia sendirian.

Ada seseorang yang mengomentari tentang gelang yang ia kenakan, ia mengenakan banyak gelang yang hampir semua adalah kenangan, selain itu gelang - gelang itu juga digunakan sebagai tempat persembunyian kenangan lain. Kenangan tentang cinta.

Ia sungguh merindunya, sangat. Hari ini bembi sangat merindukan bondet. Ntah kapan kerinduannya akan mendapat respon, ia sendiri tidak pernah yakin. Bahkan ia merasa itu adalah hal yang mustahil.

Ia seperti angin yang berlalu, ada tapi tidak dianggap. Seperti pemain figuran yang halnya sekali lewat dimana tidak akan ada penonton yang mengenalnya. Seorang teman bercerita akan mengendarai train dari bangkok ke malaysia. Mereka memiliki kisah di train itu, di jalan itu, di kota itu.

Ia benci sekali ketika bondet selalu menggampangkan suatu masalah, sekarang bembi sendiri merasa seperti sesuatu yang gampang juga. Gampang untuk dilupakan.

Sudah lama bembi tidak menoton film, akhirnya ia menonton "radio galau fm".

Ada sedikit kemiripan hanya saja bembi tidak ingin seperti velin, ia akan selalu menunggu bara kembali. Ia tidak menyalahkan diandra. Yah velin memang memiliki kesalahan, ia meminta kesempatan, memohon kesempatan. Tidak ada wanita sempurna didunia, ia hanya meminta waktu untuk menjadi lebih baik.

Ntah kapan waktu itu, akan terjadi atau tidak. Bembi selalu berharap bertemu lagi dengannya, hal yang akan dilakukannya hanya 1. Ia tidak akan perduli lagi dengan apapun pendapat orang lain, karena ia sadar. Orang lain tidak akan pernah berhenti berkomentar. Dan kebahagiannya bukan tergantung orang lain. Yah hanya 1 yang akan ia lakukan. Sederhana, ia akan memeluknya erat dan takkan melepaskan genggamannya lagi.

Sabtu, 06 Februari 2016

Pagar, Hujan dan Banjir

Dalam kesendirian, bembi melaju motor bututnya menuju rumah mungil. Motornya melaju dengan pelan tidak seperti dulu dimana ia ngebut dengan semangat menggebu. Ia ingat senang sekali menggoda kekasihnya dengan gaya ngebut, lalu sang kekasih mengomel dan menjitak helmnya dengan keras. Ternyata itu adalah suatu kebahagiaan yang sangat sederhana.

Sore ini ia membawa paket yang berisi sepatu dan baju. Yah ia akan menyimpan dengan sangat baik seluruh isi paket itu sampai sang pengirim datang suatu saat nanti. Dengan sedikit kesulitan karena kotaknya lumayan besar, akhirnya ia sampai ke rumah yang paling ia sayangi.

Misi hari ini adalah menghias rumah dengan memasang pagar, ini adalah salah satu tahap untuk melengkapi si mungil. Dengan sedikit perjuangan akhirnya pagar terpasang dengan gagahnya. Oh duhai sang kekasih andai dirinya melihat, ia pasti akan langsung tersenyum puas dan memeluknya.

Seakan - akan menggoda hujan turun dengan derasnya, menyebabkan banjir di dapur kesayangan. Mengingatkan masa dimana mereka pernah bergotong royong mengatasi banjir yang pernah mereka alami, mengeringkan kasur, mengangkat alat elektronik, buku, mengepel, mencuci kain lap (ntahlah mengapa bembi suka sekali mencuci kain lap). Sekarang ia sendirian mengatasinya semua.

Disusul mati listrik, sendiri dalam kegelapan. Untung ada lampu cadangan dan senter mini miliknya. Senter yang pernah digunakan ketika lampu motornya mati, jadi ketika bermotor ria, sang kekasih membonceng, sementara bembi menerangi jalan dengan senter karena lampu motornya padam.

Begitu banyak memory, begitu banyak kisah, cerita, suka, duka, tawa, tangis, senyum, cemberut, kesel, merajuk, saling manja, saling menunjukkan kasih sayang, rindu. Itu semua adalah masa lalu yang telah terbang, menguap ntah kemana.

Jumat, 05 Februari 2016

Wajah Wajah Baru Para Sahabat

Agar waktu berjalan cepat, agar tak selalu melihat jam, tanggal, dan langit. Bembi pergi berjalan, berkeliling, membuka komunikasi, bertemu orang, mencari lingkungan positif. Bertemu wajah wajah baru. Mereka sesekali menggoda, ntah apa yang mereka lakukan pada jiwa yang mati. Ia hanya tersenyum sebisanya.

Wajah wajah baru itu bercerita, tentang dunia baru, hobi, tentang berbagai hal yang seharusnya bisa menjadi teman dalam penantiannya. Mereka membawanya, membawa raga tanpa jiwa. Mereka membawanya ke pesta, pesta berkala. Bagaimana cara menikmati hidup. Bagaimana cara menikmati waktu. Bagaimana agar waktu berputar cepat. Ia menjalaninya, ia mencoba menikmatinya, agar waktu tidak menghanyutkannya, agar penantiannya tidak menyakitkan, agar ia bisa tersenyum sambil menunggu.

Ia masih menunggu dengan wajah wajah baru itu yang akan menemaninya. Ia sedikit merasa lega, karena selain tembakau, ada wajah wajah baru yang siap menjadi sahabat. Menemani raga tanpa jiwa, jiwa yang telah mati. Meski kenyataannya dalam keramaianpun ia tetap merasa sepi.

Dia tidak akan mengharapkan kesetiaan dari para sahabat. Sahabat yang hanya akan berbagi senyuman. Berbagi makanan dan minuman. Karena ia juga tidak akan mengisahkan penantian hatinya pada mereka. Hatinya hanya kisah mereka berdua. Hanya berdua.

Dalam penantian bembi akan membuat cerita dengan mereka. Bila menantiannya berakhir, ia akan menceritakan kisahnya pada sang pujaan, pengalamannya, langkahnya, sahabat - sahabat barunya. Wajah wajah baru itu.

Tapi yang pasti hatinya udah dimiliki, sedang menanti dan akan terus menanti. Hatinya tidak akan terganti, meski ia bertemu aroma yang memabukkan, meski ia diancam, meski ia sekarat, meski jonny depp melamarnya atau prince herry yang menyatakan cinta. Hatinya bukan ice cream yang dapat meleleh dengan tiupan angin. Bukan sepedas cabai yang tidak bertahan lama, bukan kata "love u" yang hilang oleh waktu. Hatinya 1, it's u.

Kamis, 04 Februari 2016

Terbangun Oleh Bayangmu

Masih sering terbangun oleh bayangmu, membuka mata, otak berfungsi. Langsung inget kamu. Dadaku nyeri, akupun langsung berdoa untuk kebaikanmu disana. Pernahkan bayangku membangunkanmu sayang? Pernahkah bayangku bermain dalam mimpimu? Atau masihkah aku ada dalam pikiranmu?

Ini aku, bukan kamu. Aku yang selalu ingat kamu dimana saja, kapan saja, sejak terbuka mata, sampai akan memejamkannya. Bahkan dalam mimpi pun masih kamu yang menari - nari. Aku bingung bayangmu ada diseluruh benda yang kulihat ataukah memang bayangmu telah menempel di cornea dan pupil mata.

Rasa rindu tidak dapat padam dari hatiku. Bahagianya ketika mendengar suaramu, berbincang denganmu, berkirim pesan. Mungkin ini adalah perasaan sepihak, mungkin kamu tidak merasakan yang sama. Mungkin.

Begitu minimnya sekarang kata - kata darimu untukku. Aku yang telah hilang. Aku, bayangan pengganggu. Aku begini karenamu. Kamu, seseorang yang begitu berharga untuk kulepaskan. Seseorang yang sangat berbeda, seseorang yang sangat unik, seseorang yang tidak dapat dibandingankan dengan siapapun di dunia ini.

Bukannya aku tidak mencoba sayang, aku selalu melakukan apapun permintaanmu. Bahkan ketika kamu memintaku melepasmu, bukannya aku tidak mencoba. Tapi semakin aku mencoba, semakin aku memaksa diriku melepasmu, aku semakin merasa sakit. Sakit yang sungguh tidak pernah kukira. Kamu pasti tau apa yang kurasakan, namun kamu tidak lagi perduli. Kamu tidak perduli aku sakit, menangis maupun bersedih.

Kamu berlari mengejar kebahagiaanmu, kamu meninggalkanku semakin jauh. Melupakanku yang selalu mengikutimu dan bersamamu kemanapun kamu melangkah. Mungkin bagimu aku adalah masa lalu yang ingin kamu lupakan. Mungkin.

Seseorang berkata "biarkan seseorang mencuri pacarmu, karena cinta sejati tidak akan bisa dicuri". Aku masih berharap kamu cinta sejatiku, atau aku cinta sejatimu. Namun begitu mudahnya kamu melepasku, begitu mudahnya kamu meninggalkanku dan begitu mudahnya kamu terbuai oleh kekagumanmu akan aroma yang lain.

Aku tidak pintar, aku tidak memiliki banyak kesamaan denganmu, aku tidak memiliki wawasan yang luas, aku bukan seseorang yang hebat, tidak ada yang bisa dibanggakan dariku. Namun aku berharap kita saling melengkapi. Kamu dilapangan dan aku strategi ekonomi. Kamu kapten dan aku asistennya. Begitulah kita. Bila aku selalu mengikutimu tanpa berfikir maka kita tidak akan punya tabungan, tidak akan punya rumah dan lainnya.

Aku tidak pelit sayang, aku berhemat, aku memikirkan masa depanmu. Bagaimana agar kamu bisa menabung. Berinvestasi. Rumah kita adalah tabunganmu sayang. Kamu akan merasakannya nanti. Aku selalu ingin kamu mencapai semua mimpimu namun tidak melalaikan hari tuamu nanti sayang. Aku begitu karena aku sayang padamu.

Aku memberimu kesempatan berkeliling indonesia, dunia, aku ingin menemanimu kemana pun kamu melangkah, hanya saja waktunya tidak tepat sayang. Aku memberimu kesempatan untuk memuaskan keinginanmu, bukan untuk agar kamu melepasku. Aku memberimu kepercayaan, memberimu hatiku bukan untuk kamu buang namun untuk kamu simpan dan jaga.

Sekarang hatiku sudah tidak penting, ia sudah tidak bernilai dan sudah tidak berharga. Aku sangat bersedih pada situasi ini, situasi dimana hatiku tidak mampu menyentuh hatimu, memandang matamu, membelai wajahmu dan memelukmu.

Ini aku, aku seseorang yang menunggu, dan terus akan menunggu.

Bocor Lagi

Motor butut bocor lagi, padahal tadi pagi sudah ditambal. Hufft
Ngingetin waktu abis jonton di menplaz, ban bocor ditambal, jalan bentar eh bocor lagi. Nungguin dia balik ke bengkel minta di benerin. Inget waktu dia ngomel ngomel cerita kalo tukang tambal gak tanggung jawab minta dibayar lagi.

Sore ini jalan lewat polonia airport, sekarang namanya uda dirubah suwondo. Dulu sering jalan dari situ, pernah juga jemput dia tengah malam, naik motor butut ngebut dengan semangat demi ngejemput dia. Dia sang segalanya.

Inget banget setiap dia kemana aja selalu bawain sesuatu, dari underware, tanktop, baju sampai assesoris. Dia selalu memanjakan, dia semangatku. Aku selalu ngebut dengan semangat ketika menjemputnya kapan saja dan dimana saja. Di bank mestika, di tenoen cafe, dimana mana lah pokoknya.

Tapi oleh oleh terakhirnya menghujam jantungku, menghentakkan. Kata perpisahan. Ntah bagaimana aku bisa, aku ingin berhenti tapi semua yang kulalui melukiskan senyummu, gigi patahmu, gambarmu, suaramu, bekas luka bakatmu, aromamu, semua tentangmu,

Meski dirimu jauh, bayangmu begitu kentara dikota ini. Apa yang akan kamu rasakan bila kamu sebulan, seminggu atau sehari aja melalui kota ini. Apa yang kamu rasakan? Apakah aku berlebihan, apakah penglihatanku palsu, apakah aku hilang kesadaran, aku menantangmu. Untuk membuktikan tentang perasaanku, tentang kota ini, tentang kisah kita. Sungguhkah kamu lupa, coba dan buktikanlah.

Sang Mentari

Cahaya mentari hari ini begitu menyilaukan, tapi ntah mengapa hangatnya tidak sampai pada hatiku. Hatiku masih begitu sepi, dingin dan hampa. Ia terpenjara dalam kegelapan. Ia terduduk dan terdiam. Sesekali ia bergerak menyebabkan rasa nyeri. Itu sudah terjadi beberapa lama, masih sampai saat ini dan tidak tau akan sampai kapan.

Ia tidak ingin berkata kata, karena ia tau setiap mulutnya terbuka akan keluar kata yang sama. Dia adalah hati yang keras kepala. Karenanya sendiri ia merasa sakit, karenanya sendiri ia tersiksa. Ntah apa yang ada dipikirannya, ntah apa yang ia harapkan dan ntah apa yang ia percayai.

Pastinya ia ingin bahagia, pastinya ia ingin merasa hangat, pastinya ia ingin dimiliki hati lain yang merajainya. Semua ini tentang hatiku, hati yang terus menunggu, dan akan selalu menunggu.

Bukan salahnya jika ia setia, bukan salahnya jika ia memuja, bukan salahnya jika ia mencinta. Aku tak mengerti mengapa hatiku seperti itu. Tidak dapat diatur, tidak dapat dikendalikan. Ia telah lupa pada majikannya. Ia terus mengharap, ia terus berdoa. Ia sungguh hati yang egois, karenanya air mata terus mengalir, karenanya senyuman menjadi redup, karenanya malam siang tiada berkesan dan karenanya pula dunia seakan berakhir. Otak dan pikiran menjadi tumpul, seluruh indra menjadi mati. Semua karenanya, hati yang tak tau diri.

Aku tak mengira begitu besar kekuatan hati, melebihi kekuatan otak. Hatiku adalah kekuatanku tapi ternyata ia juga menjadi kelemahanku. Bagaimanapun aku hanya memiliki 1 hati yang dulu sering bernyanyi. Sekarang ia pemurung, pendiam dan tidak menginginkan apapun. Tapi aku tau apa yang ia inginkan sesungguhnya, keteguhannya, penyebab kesetiaannya, isi lagunya, kebahagiaannya, mimpinya, senyumnya. Aku tau apa yang ia tunggu, yah hanya 1 yang ia tunggu. Sang mentari hati.

Rabu, 03 Februari 2016

Motor Butut Kita

Pagi pagi bembi sudah mengalami sarapan yang mengejutkan. Ban motor butut yany selalu menemaninya bocor. Ia ingin bercerita, ia ingin berbagi cerita, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin menganggu, menganggu seseorang yang sebelumnya selalu mendengarnya, selalu mencemaskannya dan selalu siap untuknya. Bembi pun sadar akan dirinya, ia hanya mampu menulis kisahnya melalui sebuah pena, pena yang diberikan oleh seseorang padanya, pena yang selalu dibawa dan dipeluknya.

Dear kamu,

Pagi ini motor butut yang selalu menemani kita bocor, aku mendorongnya, mencari bengkel untuk memperbaikinya. Ntah berapa kali motor butut memaksa kita mendorongnya, membuat kita memandangnya ketika sedang di perbaiki. Ntah berapa kali kita mengalaminya, ntah dimana saja. Di jl. Sparman, jl, gelas, dan jalan lainnya.

Kamu yang paling rajin, yah kamu memang yang hebat. Kamu paling rajin merawat motor butut itu. Motor yang memberikan banyak kenangan. Ntah berapa kali kita berganti motor. Ntah berapa banyak jalanan dan ntah berapa jauh yang pernah kita tempuh. Bila ia dapat bicara ia pasti lebih menyayangimu daripada diriku.

Aku sangat senang ketika kamu mengizinkanku membonceng, dijalan yang kamu ragu. Di bali, di jl. Belawan, di prapat sampai di berastagi. Hihihi. Kamu memang sangat gengsi dan egomu sangat tinggi, sehingga dijalan kota lebih sering kamu yang memboncengku, kamu juga sering meledek aku tidak tahu jalan. Sejujurnya aku ingin mengendarai motor ketika hujan, karena aku tidak ingin kamu sakit karena helm kesayanganmu tanpa kaca, tapi kamu selalu bersikeras. Bila kita basah kuyup aku cepat cepat mengambil handuk untuk mengeringkan kepalamu, begitu juga sebaliknya.

Itu saat dimana kamu menjagaku, memanjakanku, dan menyayangiku.

Motor itu selalu berbisik padaku tentang dirimu, gambarmu, wajahmu, senyummu, dan keras kepalanya kamu. Dia juga sering mengingatkanku bagaimana sulitnya kita membawa banyak barang sehabis belanja, cathering sampai ketika kita berpindah tempat tinggal, ketika kita tertawa sambil mengendarainya dan ketika aku masih bisa mencium aroma tubuhmu. Yah dia mengingatkanku bagaimana aku memelukmu, bagaimana aku mengancingkan jaketmu dan bagaimana aku memasukkan tanganku yang dingin ke dalam saku mu.

Kami masih disini menantimu, sayangku. Aku dan motor butut kita.

Bembi

Setangai Bunga

Setangkai bunga, meski hanya setangkai. Bunga itu sangat indah, terima kasih. Yah tidak banyak yang dapat dikatakan Bembi ketika ia menerima setangkai bunga. Bunga yang begitu indah. Maklumlah telah cukup lama ia tidak mendapat bunga. Hatinya menjadi hangat, wajahnya panas. Ia berdebar, menatap ke langit biru siang ini sambil berharap siang ini tidak akan berganti menjadi malam dingin yang sepi. Ia takut hari esok akan kelam seperti hari sebelumnya.

Bembi ingin melakukan banyak hal, tapi ia khawatir pada suara. Suara nyanyian dengan janji manis dari lidah yang tak bertulang. Janji yang telah membangkitkan semangatnya untuk mengumpulkan tangkai demi tangkai bunga lalu merangkainya menjadi kumpulan bunga yang indah, namun pada akhirnya meninggalkannya hingga bunga bunga itu layu dan berguguran.

Ia memutuskan untuk merangkai dengan mengacuhkan suara itu. Menyiram, merawatnya, menempatkannya di vas yang indah. Semua ia lakukan agar ia tidak kecewa, lagi. Bila suara manis itu sungguh terjadi ia akan segera berlari untuk menyambutnya, memberikan kumpulan bunga yang telah ia rangkai. Namun bila suara itu hilang lenyap tak berbekas, maka ia akan menyimpan tangkai - tangkai bunga tersebut meskipun mereka telah layu dan mati.

Apalagi yang dapat ia lalukan, ia memandang setangai bunga itu. Menciumnya, menyimpannya, merawatnya, yah ia melakukan segalanya dengan hati. Berharap akan menerimanya lagi, lagi, dan lagi. Karena hanya itu yang ia bisa, hanya itu yang ia punya. Dan hanya itu yang akan membawa sang pemilik bunga melihatnya dan merasakannya.

Hati, hati bukanlah sekedar kata, bukan sekedar tulisan, ataupun bukan sekedar kelakuan yang dibuat - buat. Tapi hatinya adalah perasaan, perasaan yang tercurah begitu saja, seperti hujan. Hatinya bukan mesin yang bisa diatur, bisa disuruh berhenti, ataupun bisa disuruh ke lain hati. Hatinya sungguh sederhana, karena hatinya telah memilih kemana ia akan berlabuh. Hanya saja pelabuhan itu sepi. Sepi karena sudah ditinggalkan. Yah ia berlabuh seorang diri.

Selasa, 02 Februari 2016

Cerita Pada Bintang

Langit cerah malam ini, memberi setitik cahaya. Bintang aku ingin berbincang. Perbincangan ringan, yah perbincangan ringan antara aku dan kamu.

Bintang yang bersinar indah, teruslah bersinar sehingga aku dapat memandangmu setiap malam. Janganlah sinarmu redup. Karena sinarmu akan memberikan ketenangan dihatiku, agar aku dapat mengabaikan letakmu yang begitu jauh. Tinggi di angkasa.

Bintang jangan hiraukan apa yang kulakukan dibumi, karena apapun yang kulakukan aku akan tetap memandangmu setiap malam. Melihatmu bersinar indah bersama bintang - bintang. Bintang - bintang yang sungguh mempesona. Namun aku telah memilih satu bintang, sang bintang kejora. Kamu. Iya itu kamu.

Untukmu bintang aku akan menari, aku akan bernyanyi dan aku akan berlari. Jangan hiraukan bila aku terjatuh ataupun terpuruk. Kamu hanya perlu bersinar terang setiap malam, karena cahayamu adalah obat bagiku. Setitik cahaya yang menyinari hati dan malam sepiku.

Bintang aku akan bersinar sama sepertimu, dengan caraku. Cara yang akan kuceritakan setiap aku memandangmu. Sinarmu, cahayamu adalah senyum yang kurindukan, karenanya aku akan terus memandangmu, karena cahayamu adalah kebahagianku, kebahagian yang sederhana.

Senin, 01 Februari 2016

Lukisan Abu Abu

Aku berjalan tanpa arah, tidak dapat memahami lagi kemana angin membawaku. Membawa tubuh yang sudah tidak memiliki jiwa. Kosong.

Aku mengamati sekeliling semua terlihat tidak bermakna. Semua hampa. Wajah setiap orang, benda sekeliling, semua seakan sama. Ntah apa yang sedang kujalani, ntah apa yang akan kulewati. Syaraf otakku hilang fungsi satu per satu. Putus.

Menonton komedi pun tidak berhasil, aku tidak memiliki ketertarikan sama sekali. Sulit bagiku untuk tersenyum. Aku juga tak ingin tertawa lagi. Film yang biasa mampu membuatku menangis seakan menjadi basi. Aku hilang gairah. Aku hidup dalam lukisan abu abu. Lukisan tanpa warna, tidak hitam bahkan juga tidak putih.

Aku ingin menyibukkan diri dengan setumpuk pekerjaan, namun lagi lagi aku tanpa gairah. Semangatku telah terenggut paksa. Motivasiku telah dikebiri. Tujuan yang tadinya ingin ku raih telah terbang bersama burung yang lupa pada rumahnya.

Hanya kesepian yang tersisa. Aku sendiri bersama memori dan tembakau yang menemani. Terkurung dalam lukisan selama masa yang tidak ditentukan.

Yah ini bukanlah pilihan sayang. Tapi ini adalah kado darimu untukku. Kado yang sungguh mengejutkan. Kado yang telah merubah hidup bahkan duniaku. Kado yang wajib aku terima tanpa boleh menolak. Aku harus  menerimanya demi kamu. Biarlah aku hidup seperti ini, semua akan seperti yang kamu inginkan sang pemilik hati. Semua demi kamu, demi senyummu, demi kebahagiaanmu.

Sabtu, 30 Januari 2016

Putus Asa

Tergeletak dilantai tanpa harapan membuat bembi merasa putus asa. Ia merasa tidak memiliki apapun untuk mendorongnya bangkit. Ia ingin tertidur selamanya.

Bembi setiap hari memanggil sang terkasih, namun semua pupus. Ia meninggalkan diari berharap sang terkasih menemukannya. Mengerti hatinya, kerinduannya. Beribu kata "miss u" yang disebutnya setiap detik.

Bembi putus asa, ia berharap angin membawanya terbang, bumi menenggelamkannya, sehingga ia tidak merasakan kesakitan lagi.

Ia terus berfikir, apakah sang terkasih akan sedih bila ia hilang? Apakah sang terkasih akan menyesal menyiakannya? Menyesal membuatnya menangis sampai akhir? Apakah sang terkasih masih menyimpan sedikit cinta dan kasih untuknya?

Ia putus asa, ia tidak ingin melewati hati dengan kesakitan tanpa sang terkasih. Yah ia ingin lenyap.

Dear Kamu,

Masih tentang bembi, bembi yang tak dapat menyampaikan isi hatinya secara langsung kepada sang kekasih. Karena ia tau itu percuma, sang kekasih telah menutup mata, telinga, pikiran maupun hatinya. Sang kekasih telah mengangapnya hilang, habis, mati.

Bembi hanya dapat melukiskan segalanya melalui pena,

Dear kamu,

Malam aku sendiri disini, dirumah mungil kita, rumah yang telah kamu lupakan, rumah yang sudah tiada arti bagimu.
Malam ini aku pusing sekali, tetapi aku justru memikirkan apakah kamu baik baik saja disana? Kapankah kamu ingat jalan pulang? Kapankah kamu sadar ada yang menanti dirumah?

Rumah mungil ini sekarang terasa begitu besar, lihatlah aku memperindahnya agar kamu terpesona. Apakah rumah ini tidak mengingatkanmu akan sesuatu? Bagaimana kita membangunnya? Furnitur, dapur, kasur, lemari, tv, kipas, semuanya tidakkah kamu ingat bagaimana susahnya kita mengumpulkannya.

Sebelum memiliki rumah ini, lupakah kamu bagaimana kita tidur dilantai dengan kasur setipis selimut. Sulitnya makan sampai kita mengumpulkan koin. Membeli jajanan murah untuk mengisi perut. Lupakah kamu akan semuanya sebelum rumah ini ada. Bagaimana kita berpidah dari satu tempat ke tempat lain.

Rumah ini adalah awal, awal langkah kita. Mimpi kita masih panjang. Segala yang kita lalui tidaklah mudah. Kita berjuang. Kamu melupakan segalanya, segala yang kita bangun. Kamu selalu menjagaku, sekarang kamu terus menyakitiku. Aku selalu menggengam tanganmu, memintamu bersabar sementara waktu untuk mimpi kita. Namun kamu seakan lupa. Kamu melupakanku, siapa aku, sejarahku, perjuanganku, usahaku, cintaku, sayangku, bahkan namaku.

Sekarang kamu tidak lagi merindukanku, tidak lagi menyayangiku, tidak lagi mencintaiku. Bagaimana aku bisa bertahan? Bagaimana aku bisa tanpamu. Kamu mengajarkanku cinta, memperjuangkan cinta, tapi kamu menghilang. Meninggalkanku sendiri dalam kesedihan. Tangisanku tidak lagi berarti.

Apakah aku memang semudah itu kamu buang?

Aku sangat merindukanmu, aku sakit disini menunggumu. Jangan lepaskan.

Dari seseorang yang masih menunggumu disini.

Bembi

Jumat, 29 Januari 2016

Maaf

Masih malam panjang, malam yang tiada berakhir bagi bembi. Ia menatap  gambar pohon yang ditemanin kucing, burung dan hewan lain. Kucing - kucing yang saling jatuh cinta. Sekarang pohon itu telah ditinggalkan, semakin mengering. Sendirian dan terlihat kesepian. Bembi menatapnya sedih. Sembari berfikir, bila pohon itu tidak dapat tumbuh subur dan indah sepertinya lebih baik mati daripada ia tersiksa, nelangsa.

Bembi seperti melihat dirinya pada pohon itu, pohon yang menanti akhir cerita. Ia sadar akan kesendiriannya, sadar telah ditinggalkan namun ia tidak tau diri. Ia terus memaksakan keinginannya, keinginan yang telah ditolak mentah - mentah. Dengan halus maupun lembut, ia sadar akan penolakan itu. Namun ia menutup telinga, menutup mata, dan menutup pikirannya.

Deadline, makan, kerja, ngantuk, semua alasan yang sebelumnya tidak pernah menjadi hambatan telah dilontarkan. Ia sadar itu adalah penolakan, namun ia terus berusaha mendekat, berusaha mengingatkan masa indah yang telah dilupakan. Memupuk semangatnya sendiri yang berakhir dengan tetesan tak terbendung. Terus dan berulang.

Karenanya seseorang harus berbohong dan menjaga hatinya. Seseorang yang ingin bahagia.

Maaf, kata yang akan selalu diucapkan bembi untuk semua alasan, apapun dan kapanpun. Maaf pernah menyakiti perasaannya, maaf karena sangat menyayanginya, maaf karena mengganggu hidupnya. Maaf bila ia merasa disepelekan karena itu tidak benar banyak saksi yang melihat dan mendengar bagaimana bembi membanggakannya di hadapan keluarga maupun sahabat.

Bembi ingin melihatnya bahagia, melihatnya tersenyum, melihat matanya yang bersinar, melihat semangatnya bercerita, melihatnya tertawa, mendengar suara nyaringnya, gerakan perutnya, melihat gaya mucilnya. Semua yang ia rindukan, semua yang memenuhi pikirannya.

Maaf, ia tak bisa mengikhlaskannya seperti bagaimana ia telah dilepaskan. Maaf karena mengganggu ruang nya. Maaf karena mengikutinya selalu. Maaf karena hati bembi tak dapat menahannya. Maaf terus mengingatkannya menjaga kesehatan, maaf sering mengomelinya tentang makanan terutama tempe ataupun kacang. Maaf terus menghkawatirkannya, Maaf terus menggenggam tangannya, maaf pernah membuatnya menunggu. Maaf karena ingin bersamanya.

Maafkan atas semuanya.

Demi kebahagia orang yang disayang, demi senyum itu, bembi rela terjun ke jurang, lompat ke lautan api, ataupun terkurung didasar tanah. Untuknya, ia rela.

Tapi maaf aku masih tetap meminta, meminta untuk diingat, tak dilupakan, dan tetap disayangi. Maaf karena bembi masih tetap mengharapkan cintanya. Suatu saat, suatu hari. Sebelum pohon itu mati.

My feeling

Sia ~ I Go To Sleep ~ Lyrics: http://youtu.be/Icr1P_MzYIs

Kamis, 28 Januari 2016

Sesaknya Merindukan Bulan

Bembi terlihat murung memandang jendela. Menatap sesuatu yang terlihat jauh. Bulan.

Malam ini bulan terlihat indah, apakah ia menebarkan keindahan keseluruh pelosok bumi? Sampaikah keindahan itu padanya? Namun keindahan bulan tak dapat menghilangkan kelam malam yang masih ia rasakan.

Dadanya sesak, sungguh sakit. Adakah yang mengerti? Mengapa? Ntah bagaimana cara untuk menghilangkan sakitnya, obat, rokok, minuman atau apa? Hanya ia yang tau, ia sang rembulan yang jauh. Rembulan lain yang dirindukan.

Bembi sungguh tak mengerti, ia berharap terbangun dari mimpi ngeri yang menyakitinya. Mimpi yang menghisap hidupnya dan membunuhnya perlahan. Siang ataupun malam sudah tidak penting. Ia sudah tidak memiliki gairah, motivasi ataupun semangat lagi. Langkahnya semakin pelan, tatapannya semakin buram dan otaknya semakin melemah.

Kerinduan menghancurkannya. Menghancurkan segala asa yang dikumpulkannya dengan bersusah payah. Asa yang terbuang, asa yang dengan sabar dipungutnya dari tempat sampah, dari selokan, parit sampai TPA.

Dalam sakit dan tersiksa, ia tak mau menyerah. Bembi terus memandang rembulan yang ia rindukan. Oh rembulan rasakanlah kerinduan ini, dengarlah jeritan memanggil namamu, obatilah sakit yang dirasakan. Hentikan penyiksaan ini. Oh rembulan berikanlah sedikit cahayamu, sedikit saja. Karena meski hanya sedikit itu akan cukup memusnakan rasa sakit dan kelam malam yang ia rasakan.

Rabu, 27 Januari 2016

Hujan

Malam lalu, malam ini masih sama. Ntah berapa malam lagi yang akan kulalui dalam hujan yang panjang. Hujan yang menggerogoti tubuhku. Tubuh yang hanya dilapisi kulit tipis berwarna kecoklatan dengan wajah tirus dan tatapan mata tanpa cahaya.

Hujan merampas senyumku, memenjaraku dalam ruang sempit, memenuhi pikiranku dengan keinginan dan harapan kosong. Kadang membuatku mual, ingin memuntahkan segalanya. Segala kekecewaan.

Untuk menghibur diriku sendiri, terkadang aku mendengarkan musik sambil berdansa. Sendirian. Sampai lelah, lalu menangis dan tertidur.

Namun hujan tak rela aku tenang, ia menggangguku, menarikku kedalam, agar aku merasakan kedinginan. Tak membiarkan tertidur pulas, terus menggodaku. Hanya 2 sampai 3 jam saja ia membiarkanku bermimpi. Mimpi yang indah.

Hujan panjang ini menghancurkanku. Kemanapun aku melangkah, hujan terus mengikutiku. Aku lelah, sungguh lelah. Aku ingin mengangkat tangan, mengibarkan bendera atau menekan tombol untuk menyatakan aku menyerah. Karena hujan telah membasahi seluruh tubuhku bahkan meresap sampai kedalam hatiku. Ya Tuhan aku berpasrah padamu, berilah aku hari yang indah, hari yang penuh warna, hari yang kulalui bersamanya.

Selasa, 26 Januari 2016

Pendarahan

Akhirnya aku mengalami pendarahan yang tidak wajar. Seorang dokter spesialis kandungan mengatakan salah satu penyebabnya adalah stres. Dan yah akhirnya akupun mengalaminya.

Aku ingin berbincang pada sang bulan yang indah, namun ia begitu jauh. Dan ia pun takkan perduli. Biarlah rasa ini kulalui sendiri. Seperti aku yang sedang menerima hukuman.

Lebih beruntung seorang narapidana yang mendapatkan amnesti maupun keringanan dalam bentuk lain, dari pada aku yang tergeletak disini tanpa ampun dan iba sama sekali.

Semalam aku membaca berbagai hukuman kejam dibeberapa sudut dunia. Sungguh ngeri, membuat merinding. Kadang orang membuat suatu kesalahan, dan setiap orang memiliki kesalahan. Namun nyawa adalah titipan sang maha pencipta, dan ciptaannya akan kembali padanya. Itu pasti. Manusia dilengkapi rasa, hati, pikiran dan seluruh fitur sempurna dibandingkan makhluk lain. Tapi dengan menghukum tanpa ampun, mencabut nyawa dengan paksa adalah hukuman yang pantas? Seperti juga yang kurasa sekarang, cabikan, cambukan dan tusukan pada hatiku yang kurasa pada setiap jantungku berdetak karena cintaku yang direnggut.

Sang maha pengampun selalu memberikan kesempatan, untuk memaafkan pada setiap umatnya yang dengan sepenuh hati memohon ampunan. Aku memohon ampunan pada - Nya. Pada sang pemilik karena aku jatuh cinta padamu bulan. Cinta yang akupun tak paham. Cinta yang kurasa sangat nyata. Cinta yang menyadarkanku, ternyata betapa aku sungguh lemah.

Jejak Penguntit

Laksana penguntit aku terus memandangnya dari jauh, mengikuti langkahnya, dan mencari tahu apa yang terjadi padanya. Memandang fotonya, dan menciuminya. Tidur dengan pakainya dan memeluk guling berselimut pakaiannya juga. Aku seperti telah sakit. Penyakit yang dulu tak pernah kupahami.

Hatiku sendiri sering berperang. Ingin menyerah tapi bertahan. Ingin bahagia tapi ku bersedih. Setiap saat aku ingin tau apa ia baik - baik saja. Apa ia menjaga kesehatannya, apakah ia bahagia, ataukah ia sedang bersedih. Melihat WA nya kapan terakhir dia online dan apakah ada status di media sosialnya. Yah aku, sekarang aku adalah sang penguntit. Penguntit yang malang.

Aku begini karena ia sudah tak sudi, tak sudi mendengar suaraku, melihat wajahku. Dan tak sudi mengenang cintaku.

Suatu saat, saat dia mengingatku, walau hanya 1 menit dalam hatinya. Aku harap ia dapat mengerti apa yang kurasakan. Saat semua belum terlambat.

Karena aku sudah hidup dalam kehampaan, kesedihan yang menyesakkan. Hingga aku pun tak kan berfikir panjang lagi tentang langkahku, hidupku, tujuanku, maupun keselamatanku. Aku akan menciptakan banyak ceritaku saat tanpanya, bagaimana hancurnya hatiku, kesepianku, malam dingin ku, nafasku yang memanggil namanya dan air mataku yang mengalir ketika merindukannya.

Tetapi bila aku tiba - tiba hilang. Itu sungguhlah bukan keinginanku. Itu adalah salah satu doaku yang terkabul. Doa yang selalu kupanjatkan pada sang pencipta. Doaku sederhana, semoga aku dapat hidup bahagia, namun bila aku hidup dengan kesedihan yang tiada berakhir aku memohon agar sang pencipta mengambil apa yang telah dipinjamkan pada hambanya yang hina ini. Doa agar orang yang aku sayangi diampuni dosa - dosanya, hidup sehat dan bahagia, dan namamu tak pernah terlupa dalam doa. Saat aku bangun, beribadah sampai saat aku akan memejamkan mata.

Namun bila semua telah terlambat, carilah jejakku, bacalah ceritaku, kenanglah aku, dan hargailah cintaku, jangan pernah bersedih seperti yang kurasakan. Tetapi banggalah, karena ada seseorang yang begitu memujamu, mengagumimu dan sangat menyayangimu.

Senin, 25 Januari 2016

Gunung Es

Di kutub, diujung belahan dunia lain. Dia berdiri kokoh, tegas tak tergoyah. Dia dingin dari ujung kaki sampai puncak. Aku ingin menaklukkannya. Menaklukan gunung es yang seakan dekat, namun begitu jauh.

Berlapis pakaian, sepatu bot, berlapis celana dan berlapis jaket. Aku siap bertempur, aku siap naik, aku siap menuju puncak. Tidak mudah, sangat sulit dan langka bagi yang mampu menaklukannya. Ada yang menyerah bahkan ada yang gugur dalam tidur tiada berkesudahan.

Gunung es itu begitu indah, namun begitu dingin, aku berfikir apakah dia adalah titik bumi, titik terdingin dunia? Tanganku mulai tidak berasa, kebas. Aku tetap melangkah naik, menanjak langkah demi langkah. Setapak demi setapak berusaha sampai pada bibirmu, melihat perutmu dan menciptakan cerita tentang perjuanganku.

Dalam seumur hidup ini keinginanku, mimpiku, menaklukan gunung es yang mengacuhkanku, yang dengan angkuh memalingkan wajahnya dariku dan berada sangat jauh dariku. Berhasil atau tidak, sampai puncak ataupun gugur dalam kebekuan abadi.

Dia yang indah, dingin serta mematikan. Aku tidak mengerti mengapa aku begitu menginginkannya, tapi yang pasti seluruh hidupku akan kupertaruhkan untuknya. Yah aku jatuh cinta pada gunung es itu pada sang pemilik pesona. Pesona yang selalu aku baca, aku tonton dan aku sentuh gambarnya. Pesona yang sering ku serukan dalam hati, fikiran serta doa. Pesona yang selalu bermain dalam ruang hati dalam setiap hembusan nafas.

Namun semua itu hanyalah angan, keinginku menaklukanmu seperti mimpi. Mimpi yang hanya akan tercapai dengan izin sang pencipta. Saat ini aku hanya bisa berharap dan memandangmu dari jauh. Akankah suatu saat doaku terkabul? Bismillah, kabulkanlah keinginan hatiku ya Allah pemilik semesta, amin.

Inikah PHP

Satu kata membuat hati melompat, membuat bibir bernyanyi spontan, dan senyum tak karuan. Namun satu kata juga bisa membuat langit runtuh dan dunia seakan hancur seketika. Setiap kata memiliki makna, mewakili warna dan menawarkam madu atau racun.

Seperti itulah setiap kata yang dipersembahkan bondet pada bembi. Mereka memiliki cerita panjang, suka, duka dan mimpi. Waktu berlalu, kini mereka terpisah jarak. Bondet pergi untuk bekerja, tapi mereka masih sering bertemu, berbagi cerita via suara, dan membuat janji untuk moment istimewa, bembi pun percaya sepenuhnya pada bondet. Bembi berharap dapat bersama lagi seperti sebelumnya tanpa ada keraguan.

Tiba tiba bak tersambar petir, bondet bersama wanita lain. Tapi karena cinta ia hanya berharap satu kata, kata "cinta". Tetapi jawaban mengerikan yang ia dapat "maaf, karena aku telah jatuh cinta pada wanita lain"

Ia menangis sedih, memohon pertimbangan dan kesempatan untuk berusaha membuat bondet jatuh cinta padanya lagi. "Semoga ada keajaiban, dan aku bisa jatuh cinta padamu lagi", bondet berjanji untuk memikirkan kenangan dan mempertimbangkan cinta bembi. Yah itu bagai lirik lagu indah dalam hati bembi, kesempatan, peluang, atupun keajaiban, hatinya merekah senyumnya bertebaran dan ia bernyanyi spontan. Ia akan berusaha, ia akan menunjukkan hatinya, ia siap berdarah berjuang demi cinta.

Namun lagi lagi ia kecewa, janji bertemu dibatalkan dan telepon untuk mendengar suara pun dibatasi. Ia bersedia keujung dunia mencari kisahnya yang terlupa, mencari kemana cintanya yang hilang, mencari apapun untuk mengembalikan memori bondet, mengembalikan tatapannya dan mengembalikan hatinya.

Inikah yang disebut PHP? Memberi harapan yang sesungguhnya tidak ada? Ia berharap akan keajaiban, berharap bantuan Tuhan, berharap takdir mempersatukan.

Meski ia sadar ia sungguh malang, ia seperti pengemis, ia putus asa. Namun ia rela. Karena ia yakin bondet pantas diperjuangkan, karena mereka punya sejarah. Dan karena bondet adalah yang terindah. Dan suatu saat bondet sadar bahwa bembi adalah cinta sejatinya.

Minggu, 24 Januari 2016

Terdampar

Menikmati lautan di malam dengan langit bertahta bintang. Yah ini yang dilakukan bembi. Ia berkeliling dari satu tampat ke tempat lain dengan kapal butut, ditemani sang tersayang.

Ketika mereka terbuai indahnya lautan terdengar suara dari dasar kapal "krek". Mereka saling memandang dan segera memeriksa suara itu. Mereka panik, saling memberi intruksi, saling memerintah dan saling menyalahkan. Hanya dalam hitungan jam kapal mareka mulai tenggelam. Mereka mulai mencari pegangan, pada apa saja untuk bertahan. Pada kayu yang terapung, pada apapun. Sang tersayang berusaha menggapainya dengan cara apapun. Namun arus memisahkan mereka. Terombang ambing tanpa tau tujuan, sendiri, dehidrasi, semua membuatnya letih. Matanya mulai terpejam dan ia pun mulai tak sadar.

Matahari membangunkannya, angin berbisik, dan aroma pasir menggelitik. Akhirnya bembi membuka mata, melihat sekeliling, tempat yang tak dikenal, dan sendirian. Ia segera berjalan mencari bantuan, namun itu seperti pulau tak berpenghuni. Ia lapar, menggigil kedinginan dan pucat. Yah pulau ini sepi kosong tanpa orang lain, tanpa manusia. Ia melepaskan pakaiannya untuk dikeringkan dipakai kembali lalu mencari apapun yang bisa dimakan.

Bembi masuk ke dalam hutan, ia pasrah akan nasibnya. Bertemu hewan buas ataupun memakan tanaman, buah yang beracun. Pepohonan menggores kulitnya, tp ia tidak merasa sakit, dan duri duri pun ikut menusuk kakinya. Ia melihat suatu pohon dengan buah, buah yg ia tidak kenal. Tapi ia tidak perduli, ia berusaha memanjat pohon itu. Dengan pakaian sobek dia duduk dibatang pohon, memakan buah sampai haus dan laparnya hilang. Menunggu sesaat terdiam dan akhirnya yakin, ia masih hidup.

Hutan ini sungguh sepi, ia hanya melihat burung di ujung pohon lain. Ia turun mencoba membuat sinyal bantuan, mencoba membuat api, mencoba segalanya. Ia mencari ujung hutan, namun langkahnya seakan tanpa akhir hingga langit menunjukkan akan berubah warna, mentari akan segera meninggalkannya dan dingin malam menyeringai garang siap melahapnya.

Dalam gelap ia mulai menggigil, berdoa seseorang menemukannya, berdoa sang tersayang selamat sedang mencarinya dan akan membawanya pulang.



Sembunyi

Lepeh berada sendirian di rumah mungil dalam hutan, orang sekitar pun heran namun ini bukan tentang keberanian. Tapi ini tentang sembunyi. Ia sembunyi dari sesuatu, sesuatu yang sangat ditakutkannya. Sesuatu yang tidak akan dimengerti orang lain.

Dengan langkah tertatih ia keluar diam diam membeli rokok dan bir untuk menemani, menemani dalam keputusasaan. Sesegera mungkin ia kembali, menghisap rokok sambil bergetar ngeri. Merenung mengapa ia menjadi seperti ini, tentang ketakutannya, tentang hidupnya, tentang segalanya. Sembari meneguk bir, ia memandang cermin didepannya. Dimana ia melihat sosok yang terkulai lemah dengan tatapan mata tanpa cahaya, redup.

Denyut jantungnya berdetak perlahan, ia meminta bantuan pada Tuhan untuk memberinya mentari yang cerah agar dia tak perlu sembunyi. Agar ia dapat menyapa sekitar sambil tersenyum. Agar ia dapat berjalan dengan tatapan pasti. Melihat warna pada pelangi dan merangkai masa depan.

Hari berganti tapi waktu terasa begitu lambat, hari yang dilalui begitu menyiksa. Ia tak lagi mendengar lagu, tak lagi menonton film, tak lagi membaca cerita dan ia tak lagi dapat menikmati apapun. Ia mulai melukai tubuhnya agar tidak matirasa, agar ia masih dalam kesadaran. Ia tergeletak dilantai nafasnya semakin tersengal, tatapannya semakin memudar.

Namun ia masih berusaha hidup, menanti keajaiban. Menanti akhir dari ketakutan. Ketakutannya akan seseorang, seseorang yang siap menikam jantungnya, dan mengambil hatinya untuk dibekukan.

Jumat, 22 Januari 2016

Tumpukan Buku, CD, dan Cinta

Ratu (30) berjalan tertatih melintasi jalan yang semakin terasa melambat. Melewati jalanan kota yang semakin berpolusi. Sembari mengendarai motornya, fikirannya melayang, pada cerita. Pada masa itu.

Ratu menuangkan segelas wine, malam itu malam minggu. Malam yang begitu indah bagi sepasang kekasih. Duduk bersama dilantai sambil menonton CD, lalu Jendral berkata (30) "sayangku belilah kursi agar lebih beradap" lalu tertawa saling mengejek. Berkeliling kemanapun sesuai kenginan hati. "Aku akan selalu mencerikan cerita yang sering kamu lupa karena memori otak kamu yang minim, hahaha", begitulah candaan Jendral. Seperti film yang baru mereka tonton bersama. Ratu sering menangis karena film - film itu dan Jendral selalu menertawakannya. Mereka tergila - gila pada Buku, CD, pada cerita Cinta. Yah dulu begitu indah.

Berganti masa dimana mereka selalu berselisih paham, berdebat, berteriak, saling memaki dan menyakiti. Ratu sadar akan kesalahannya, namun hatinya bagaikan kumpulan benang kusut. Ia selalu merusaha mencari solusi agar hatinya tenang bersama Jendral. Meski pertengkaran selalu terjadi Ratu selalu setia menemani Jendral kemanapun dan menggenggam tangannya setiap saat. Meski bertengkar Ratu selalu memperhatikan kebutuhan Jendral sampai terkecil bahkan keinginannya yang tak terucap sekalipun.

Kini Jendral pamit pergi, meninggalkan Ratu dalam kesepian yang tiada tara karena Jendral tak kunjung kembali. Ratu bergerak perlahan seakan memapah gunung es melewati seluruh kenangan mencari jejak Jendral mencari aroma yang dirindunya agar kerinduannya berkurang. Ratu yang nestapa, hancur, dan terbuang.

Ratu menyendiri dalam keterpurukan, tidur bersama tumpukan buku dan CD. Dalam kepedihan ia paham, semakin ia mencintai seseorang semakin sakit ia merindukannya. Ratu berharap keajaiban muncul, mengembalikan Jendral, memeluknya, menciumnya dan menggenggamnya tangannya kembali selamanya.
Untuk itu ia akan bertahan untuk menunggu sang Jendral pemilik hati.