Rabu, 03 Februari 2016

Setangai Bunga

Setangkai bunga, meski hanya setangkai. Bunga itu sangat indah, terima kasih. Yah tidak banyak yang dapat dikatakan Bembi ketika ia menerima setangkai bunga. Bunga yang begitu indah. Maklumlah telah cukup lama ia tidak mendapat bunga. Hatinya menjadi hangat, wajahnya panas. Ia berdebar, menatap ke langit biru siang ini sambil berharap siang ini tidak akan berganti menjadi malam dingin yang sepi. Ia takut hari esok akan kelam seperti hari sebelumnya.

Bembi ingin melakukan banyak hal, tapi ia khawatir pada suara. Suara nyanyian dengan janji manis dari lidah yang tak bertulang. Janji yang telah membangkitkan semangatnya untuk mengumpulkan tangkai demi tangkai bunga lalu merangkainya menjadi kumpulan bunga yang indah, namun pada akhirnya meninggalkannya hingga bunga bunga itu layu dan berguguran.

Ia memutuskan untuk merangkai dengan mengacuhkan suara itu. Menyiram, merawatnya, menempatkannya di vas yang indah. Semua ia lakukan agar ia tidak kecewa, lagi. Bila suara manis itu sungguh terjadi ia akan segera berlari untuk menyambutnya, memberikan kumpulan bunga yang telah ia rangkai. Namun bila suara itu hilang lenyap tak berbekas, maka ia akan menyimpan tangkai - tangkai bunga tersebut meskipun mereka telah layu dan mati.

Apalagi yang dapat ia lalukan, ia memandang setangai bunga itu. Menciumnya, menyimpannya, merawatnya, yah ia melakukan segalanya dengan hati. Berharap akan menerimanya lagi, lagi, dan lagi. Karena hanya itu yang ia bisa, hanya itu yang ia punya. Dan hanya itu yang akan membawa sang pemilik bunga melihatnya dan merasakannya.

Hati, hati bukanlah sekedar kata, bukan sekedar tulisan, ataupun bukan sekedar kelakuan yang dibuat - buat. Tapi hatinya adalah perasaan, perasaan yang tercurah begitu saja, seperti hujan. Hatinya bukan mesin yang bisa diatur, bisa disuruh berhenti, ataupun bisa disuruh ke lain hati. Hatinya sungguh sederhana, karena hatinya telah memilih kemana ia akan berlabuh. Hanya saja pelabuhan itu sepi. Sepi karena sudah ditinggalkan. Yah ia berlabuh seorang diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar