Rabu, 10 Februari 2016

Mungil yang kedinginan, sendiri

Tubuh bembi basah, sepatu, jaket, seluruh perisainya tumpul. Ia kedinginan, ditambah luka pada kakinya, lengkap sudah yang ia lalui hari ini. Beruntung ia masih ditemani sahabatnya yang luar biasa. Bembi sudah sangat takut banjir melumpuhkan sang sahabat, banjir dimana mana, hujan deras yang tak kunjung berhenti. Akhirnya ia pun sampai dirumah dengan selamat, sahabat yang sungguh tangguh, sama seperti kamu yang disana.

Meskipun ia kedinginan, meskipun ia kesepian, meskipun ia sedih. Ada yang yang sangat merisaukannya. Ia memikirkannya, khawatir padanya. Si mungil. Bila hujan turun seperti ini bagaimana si mungil? Si mungil pasti kedinginan, merindu kedatangan, sendirian, basah, terabaikan. Ia sungguh resah, mengisi ruang yang tersisa. Bembi pun merasakan yang sama. Bembi merindu. Sangat.

Oh mungil bertahanlah, bembi akan segera menemuimu. Ia takkan pernah menjualmu, menyerahkanmu kepada orang lain. Meskipun ia diperintahkan sang penguasa. Ia akan selalu melindungimu, menjagamu, ia akan selalu memberikan waktu dan perhatiannya padamu. Ia takkan melupakanmu. Kamu adalah mungil kesayangannya, tempat berbagi rasa dan perasaan. Kamu sahabat teristimewa. Kamu harus percaya, ia takkan sanggup meninggalkanmu, mengabaikanmu. Meskipun orang lain melupakanmu, meninggalkanmu, ingin membuangmu, bembi akan berjuang mempertahankanmu, kenapa? Karena kamu adalah sebahagian kehidupannya, setengah dari hatinya. Tempat penyimpanan harta karunnya.

Hujan tolonglah jangan biarkan mungil kehujanan seorang diri, tunggulah saat bembi menemani dan merawatnya, meskipun hanya tersisa mereka berdua. Ia akan menjaganya, ia adalah harapannya. Tempat bembi menunggu. Ia adalah tempat melepaskan seluruh perasaan, ia adalah saksi bisu. Hujan bagaimana bembi bisa tidur malam ini bila kamu tak berhenti.

Mengertilah bembi sungguh khawatir. Ia ingin ada disisinya selalu, namun situasinya tidak segampang itu, bukan masalah tentang keberanian, tapi disini masalahnya ada izin. Ia tidak akan diizinkan menemani seorang diri. Itulah mengapa ia hanya bisa menemaninya ketika ia memiliki waktu luang. Mungkin waktu luang yang dipilih orang lain adalah menikmati sunset dipantai, menikmati makanan dan minuman di cafe, nonton di bioskop, mendengarkan musik. Waktu luang yang ia pilih adalah menemani si mungil.

Ntah apa yang terlintas di pikiran bembi, angan angan kosong. Meskipun ia kedinginan, ia putih sepucat bengkoang, bibir membiru karena hujan, meskipun ia lelah, semua akan sirna ketika ia melihatnya, ia pasti akan merasa hangat, nyaman, karena tidak akan ada dingin yang mampu mengalahkan rasa dihatinya. Ia seseorang yang telah menciptakan keberadaan si mungil, namun ia juga yang meninggalkan dan meminta untuk membuangnya. Ia yang terlupa bagaimana hangatnya, bagaimana canda dan tawa yang menggema sampai sarana permainan kartu yang menegangkan. Oh bembi ingin menelponnya, ia sungguh merindunya, ingin berbagi cerita, namun ia tidak memiliki keberanian lagi. Ia lemah tanpa daya.

Hujan tolonglah, ia sungguh resah. Karena saat ini hanya ia yang memikirkannya. Ia tanpa sang kekasih. Ia yang selalu merindu, terus menerus, seorang diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar