Aku tersenyum, tertawa bukan berarti aku melupakanmu. Aku hanya ingin menenangkan hatimu. Langkahku masih dijalan yang aku pilih. Aku masih merawat milik kita. Memperbaiki, merenovasi, aku memperindah semua yang kita punya. Meski aku sendiri tanpamu.
Kamu, berjalan tanpa perduli padaku, kamu terus berusaha menghapusku, tanpa memperdulikan aku ada, menunggumu. Kebahagiaanmu menghapus seluruh jejakku. Semuanya hilang, wajahku, senyumku, tawaku, suaraku, bahkan namaku. Kami menghapus semua, mungkin juga seluruh fotoku. Aku ingin kamu bahagia, namun bahagiamu membunuhku tanpa ampun.
Aku tidak percaya cinta dan janjimu sungguh rapuh, sorotan mata yang pernah menusuk jantungku padam tak bersisa. Aku ada namun tanpa arti. Aku terus membohongi diriku dengan percaya pada memoriku, tentang kasihmu, tentang kamu yang akan kembali. Sepertinya itu hanya sebuah mimpi. Apakah kamu ingin aku menjadi lemah, seseorang yang menyerah. Apakah menurutmu sayang dan cintaku segampang, semudah dan selemah itu? Ini aku bukan kamu.
Aku ingin menuntutmu, karena kamu telah membuat cintaku begitu dalam. Kamu harus bertanggung jawab. Ini semua adalah kesalahanmu. Mutlak. Karena pesonamu aku tidak sanggup berpaling. Aku tidak dapat menggambarkan seperti apa sakit yang kurasakan. Karena sakit yang kurasa, kamu tidak akan sanggup menahannya.
Tentu saja kamu tidak akan perduli padaku, aku tidak berharga. Aku seperti sekuntum bunga yang kamu beri, semakin rapuh, semakin layu, hanya menunggu untuk gugur dan mati. Untuk kebahagiaanmu aku rela, namun taukah kamu, ketika kamu menghapusku, itu adalah hukuman terkejam yang aku terima.
Aku bembi, sampai kapan pun, dimanapun. Bembi yang menunggu, bembi yang selalu merindu, bembi yang menjaga hatinya untukmu, aku adalah bembi. Bembi yang pernah kamu ucapkan kata cinta dan kamu rindukan, bembi yang dulu sering kamu peluk, seseorang yang pernah kamu inginkan untuk menghabiskan masa tua bersamamu. Ini aku seseorang yang telah kamu namai.... Bembi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar