Kamis, 04 Februari 2016

Sang Mentari

Cahaya mentari hari ini begitu menyilaukan, tapi ntah mengapa hangatnya tidak sampai pada hatiku. Hatiku masih begitu sepi, dingin dan hampa. Ia terpenjara dalam kegelapan. Ia terduduk dan terdiam. Sesekali ia bergerak menyebabkan rasa nyeri. Itu sudah terjadi beberapa lama, masih sampai saat ini dan tidak tau akan sampai kapan.

Ia tidak ingin berkata kata, karena ia tau setiap mulutnya terbuka akan keluar kata yang sama. Dia adalah hati yang keras kepala. Karenanya sendiri ia merasa sakit, karenanya sendiri ia tersiksa. Ntah apa yang ada dipikirannya, ntah apa yang ia harapkan dan ntah apa yang ia percayai.

Pastinya ia ingin bahagia, pastinya ia ingin merasa hangat, pastinya ia ingin dimiliki hati lain yang merajainya. Semua ini tentang hatiku, hati yang terus menunggu, dan akan selalu menunggu.

Bukan salahnya jika ia setia, bukan salahnya jika ia memuja, bukan salahnya jika ia mencinta. Aku tak mengerti mengapa hatiku seperti itu. Tidak dapat diatur, tidak dapat dikendalikan. Ia telah lupa pada majikannya. Ia terus mengharap, ia terus berdoa. Ia sungguh hati yang egois, karenanya air mata terus mengalir, karenanya senyuman menjadi redup, karenanya malam siang tiada berkesan dan karenanya pula dunia seakan berakhir. Otak dan pikiran menjadi tumpul, seluruh indra menjadi mati. Semua karenanya, hati yang tak tau diri.

Aku tak mengira begitu besar kekuatan hati, melebihi kekuatan otak. Hatiku adalah kekuatanku tapi ternyata ia juga menjadi kelemahanku. Bagaimanapun aku hanya memiliki 1 hati yang dulu sering bernyanyi. Sekarang ia pemurung, pendiam dan tidak menginginkan apapun. Tapi aku tau apa yang ia inginkan sesungguhnya, keteguhannya, penyebab kesetiaannya, isi lagunya, kebahagiaannya, mimpinya, senyumnya. Aku tau apa yang ia tunggu, yah hanya 1 yang ia tunggu. Sang mentari hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar