Sabtu, 06 Februari 2016

Pagar, Hujan dan Banjir

Dalam kesendirian, bembi melaju motor bututnya menuju rumah mungil. Motornya melaju dengan pelan tidak seperti dulu dimana ia ngebut dengan semangat menggebu. Ia ingat senang sekali menggoda kekasihnya dengan gaya ngebut, lalu sang kekasih mengomel dan menjitak helmnya dengan keras. Ternyata itu adalah suatu kebahagiaan yang sangat sederhana.

Sore ini ia membawa paket yang berisi sepatu dan baju. Yah ia akan menyimpan dengan sangat baik seluruh isi paket itu sampai sang pengirim datang suatu saat nanti. Dengan sedikit kesulitan karena kotaknya lumayan besar, akhirnya ia sampai ke rumah yang paling ia sayangi.

Misi hari ini adalah menghias rumah dengan memasang pagar, ini adalah salah satu tahap untuk melengkapi si mungil. Dengan sedikit perjuangan akhirnya pagar terpasang dengan gagahnya. Oh duhai sang kekasih andai dirinya melihat, ia pasti akan langsung tersenyum puas dan memeluknya.

Seakan - akan menggoda hujan turun dengan derasnya, menyebabkan banjir di dapur kesayangan. Mengingatkan masa dimana mereka pernah bergotong royong mengatasi banjir yang pernah mereka alami, mengeringkan kasur, mengangkat alat elektronik, buku, mengepel, mencuci kain lap (ntahlah mengapa bembi suka sekali mencuci kain lap). Sekarang ia sendirian mengatasinya semua.

Disusul mati listrik, sendiri dalam kegelapan. Untung ada lampu cadangan dan senter mini miliknya. Senter yang pernah digunakan ketika lampu motornya mati, jadi ketika bermotor ria, sang kekasih membonceng, sementara bembi menerangi jalan dengan senter karena lampu motornya padam.

Begitu banyak memory, begitu banyak kisah, cerita, suka, duka, tawa, tangis, senyum, cemberut, kesel, merajuk, saling manja, saling menunjukkan kasih sayang, rindu. Itu semua adalah masa lalu yang telah terbang, menguap ntah kemana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar