Agar waktu berjalan cepat, agar tak selalu melihat jam, tanggal, dan langit. Bembi pergi berjalan, berkeliling, membuka komunikasi, bertemu orang, mencari lingkungan positif. Bertemu wajah wajah baru. Mereka sesekali menggoda, ntah apa yang mereka lakukan pada jiwa yang mati. Ia hanya tersenyum sebisanya.
Wajah wajah baru itu bercerita, tentang dunia baru, hobi, tentang berbagai hal yang seharusnya bisa menjadi teman dalam penantiannya. Mereka membawanya, membawa raga tanpa jiwa. Mereka membawanya ke pesta, pesta berkala. Bagaimana cara menikmati hidup. Bagaimana cara menikmati waktu. Bagaimana agar waktu berputar cepat. Ia menjalaninya, ia mencoba menikmatinya, agar waktu tidak menghanyutkannya, agar penantiannya tidak menyakitkan, agar ia bisa tersenyum sambil menunggu.
Ia masih menunggu dengan wajah wajah baru itu yang akan menemaninya. Ia sedikit merasa lega, karena selain tembakau, ada wajah wajah baru yang siap menjadi sahabat. Menemani raga tanpa jiwa, jiwa yang telah mati. Meski kenyataannya dalam keramaianpun ia tetap merasa sepi.
Dia tidak akan mengharapkan kesetiaan dari para sahabat. Sahabat yang hanya akan berbagi senyuman. Berbagi makanan dan minuman. Karena ia juga tidak akan mengisahkan penantian hatinya pada mereka. Hatinya hanya kisah mereka berdua. Hanya berdua.
Dalam penantian bembi akan membuat cerita dengan mereka. Bila menantiannya berakhir, ia akan menceritakan kisahnya pada sang pujaan, pengalamannya, langkahnya, sahabat - sahabat barunya. Wajah wajah baru itu.
Tapi yang pasti hatinya udah dimiliki, sedang menanti dan akan terus menanti. Hatinya tidak akan terganti, meski ia bertemu aroma yang memabukkan, meski ia diancam, meski ia sekarat, meski jonny depp melamarnya atau prince herry yang menyatakan cinta. Hatinya bukan ice cream yang dapat meleleh dengan tiupan angin. Bukan sepedas cabai yang tidak bertahan lama, bukan kata "love u" yang hilang oleh waktu. Hatinya 1, it's u.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar