Selasa, 09 Februari 2016

Candu Tangkai Bunga

Kadang suatu moment meski sejam, semenit ataupun sedetik bisa menjadi suatu hal yang membahagiakan. Itu yang terjadi pada bembi. Suara laksana setangkai bunga yang ia terima pada waktu yang tidak pernah ia sangka, mengejutkannya, membuat hatinya melompat, ia menahan senyum sebisanya, ia tidak ingin ada yang melihatnya menjadi gila, salah tingkah, ia mencoba tetap tenang.

Untuk sesaat hatinya menjadi begitu hangat, meskipun cuaca sedang sangat dingin karena hujan tak kunjung reda. Meskipun ia mengenakan pakaian dan sepatu basah. Ia segera mengumpulkan tangkai demi tangkai dan menaruhnya di vas yang telah ia sediakan. Untuk sesaat ia yakin ia cukup bahagia.

Ia tidak ingin merusak otaknya lagi dengan pikiran - pikiran negatif. Ia hanya memejamkan mata, dan menanamkan dihatinya bahwa dia akan baik saja. Hari ini, esok, lusa dan seterusnya. Ia tersenyum pada kumpulan bunga yang ia pandang untuk menyimpan saat dimana tangkai - tangkai tersebut tercium begitu harum, aromanya, keindahannya, warnanya. Ntah sejak kapan tangkai - tangkai tersebut menjadi candu. Candu yang seakan telah bersatu dengan darah yang mengalir di arterinya. Candu yang begitu memabukkan.

Ia sangat takut menduga, ia juga takut untuk mengharap, ia takut pada kekecewaan, ia tidak lagi ingin bertaruh. Mendapat tangkai bunga yang lain. Ia pasrah pada suara, pasrah pada langit, ia pasrah. Saat ini, ia selalu merasa ketagihan, setiap saat, setiap menit, setiap waktu yang ia lalui. Ia sendiri sakit karena ketagihan yang tak sanggup dikendalikan, sakit yang tidak sanggup ia obati sendiri. Sungguh ketidakmampuan yang  menyedihkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar