Sabtu, 13 Februari 2016

Bicara pada tembok, pada lukisan, pada bayangan

Hari ini disini, memandang kalian, gadis gadis bali yang sedang menari, jam gadang yang berdiri dengan kokoh, gajah yang bermain air, twin tower, kl tower. Hanya kalian yang bisa dipandang, aku akan bercerita pada kalian yang tidak memiliki hak ataupun kemampuan untuk menolak.

Banyak yang berubah, tidak hanya perasaan, jalanan juga berubah, box tempat pembuangan sampah langganan kami sudah tidak ada berganti papan larangan. Lingkungan sekitar juga semakin ramai tapi ntah mengapa suasana terasa begitu sepi.

Ini masih tentang bayangan yang kurindukan, aku sungguh mengharapkan ketenangannya, kebahagiaannya meskipun itu membuatku sedih karena aku semakin hilang, benar benar hilang. Setiap hari aku merindukannya, aku ingin memerintahkan angin membelai rambutnya lalu membisikkan namaku. Namun apalah dayaku. Itu hanya angan kosong. Segala yang kulakukan sia sia. Semua kenangan sudah masuk kotak sampah. Itulah aku baginya.

Ia kembali kekehidupan lamanya, bersenang senang, berfoya foya, tidak perduli pada harga. Ia mencari kebahagian tanpa batas. Tidak seperti yang ku berikan, yang ku tunjukkan, yang kuajarkan, ia tidak memikirkan masa depannya, tidak menabung, tidak mengasuransikan kesehatannya. Ia sungguh melupakan segalanya. Itulah kebahagiaany yang ia cari, kebahagian yang berbeda dari sudut pandang kami. Pelit, itulah ku dimatanya.

Ia tidak perduli dengan apapun, ia hanya mengikuti keinginannya, kepuasaannya, hal yang menurutnya membuatnya bahagia.

Aku tidak pernah merayakan hari kasih sayang, karena sejak aku bertemu dengannya setiap hari adalah hari kasih sayangku padanya. Meskipun aku marah, kesel, sebel, aku selalu sayang padanya. Aku selalu menggenggam tangannya. Aku sering meninggalkannya sendiri untuk bertemu orangtua, bekerja, bertemu teman dan lainnya, namun aku selalu berusaha cepat pulang untuknya, ngebut, membawa makanan untuk berbagi, yah aku selalu memikirkannya, sayangku besar padanya. Sangat.

Kami pernah berpisah sebelumnya dimana hal tersebut sungguh menyiksaku, membuatku depresi, aku berusaha mencari solusi untuk bersamanya. Namun ternyata rencana kami berbeda, ia sudah tidak menulis namaku lagi direncananya. Mengembalikan semua barangku, tanpa menyisakan sedikitpun untuk mengingatkan betapa besar sayangku padanya.

Aku sudah tidak bisa lagi membuat kejutan di ulang tahunnya, yah meskipun aku sangat sebel karena ia selalu merusak kejutanku. Namun sekarang aku sangat sedih tidak bisa melakukannya lagi. Aku selalu berusaha memberinya yang terbaik, memberikan apa yang ia inginkan, memberikan kejutan yang akan membuatnya tertawa lebar dengan suara khas dan espresi yang tidak terlupakan. Ia sang pemilik senyuman gigi patah yang sungguh kurindukan.

Aku. Aku seorang pemuja bodoh yang tunduk pada cinta. Seorang yang hanya bisa mendoakannya bahagia, seseorang yang hanya bisa memandang. Seseorang yang menelan kerinduannya sendiri.

Aku tidak akan melupakannya, aku akan menunggunya, bersama kalian, kita akan menantinya bersama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar