Rabu, 03 Februari 2016

Motor Butut Kita

Pagi pagi bembi sudah mengalami sarapan yang mengejutkan. Ban motor butut yany selalu menemaninya bocor. Ia ingin bercerita, ia ingin berbagi cerita, namun ia mengurungkan niatnya. Ia tidak ingin menganggu, menganggu seseorang yang sebelumnya selalu mendengarnya, selalu mencemaskannya dan selalu siap untuknya. Bembi pun sadar akan dirinya, ia hanya mampu menulis kisahnya melalui sebuah pena, pena yang diberikan oleh seseorang padanya, pena yang selalu dibawa dan dipeluknya.

Dear kamu,

Pagi ini motor butut yang selalu menemani kita bocor, aku mendorongnya, mencari bengkel untuk memperbaikinya. Ntah berapa kali motor butut memaksa kita mendorongnya, membuat kita memandangnya ketika sedang di perbaiki. Ntah berapa kali kita mengalaminya, ntah dimana saja. Di jl. Sparman, jl, gelas, dan jalan lainnya.

Kamu yang paling rajin, yah kamu memang yang hebat. Kamu paling rajin merawat motor butut itu. Motor yang memberikan banyak kenangan. Ntah berapa kali kita berganti motor. Ntah berapa banyak jalanan dan ntah berapa jauh yang pernah kita tempuh. Bila ia dapat bicara ia pasti lebih menyayangimu daripada diriku.

Aku sangat senang ketika kamu mengizinkanku membonceng, dijalan yang kamu ragu. Di bali, di jl. Belawan, di prapat sampai di berastagi. Hihihi. Kamu memang sangat gengsi dan egomu sangat tinggi, sehingga dijalan kota lebih sering kamu yang memboncengku, kamu juga sering meledek aku tidak tahu jalan. Sejujurnya aku ingin mengendarai motor ketika hujan, karena aku tidak ingin kamu sakit karena helm kesayanganmu tanpa kaca, tapi kamu selalu bersikeras. Bila kita basah kuyup aku cepat cepat mengambil handuk untuk mengeringkan kepalamu, begitu juga sebaliknya.

Itu saat dimana kamu menjagaku, memanjakanku, dan menyayangiku.

Motor itu selalu berbisik padaku tentang dirimu, gambarmu, wajahmu, senyummu, dan keras kepalanya kamu. Dia juga sering mengingatkanku bagaimana sulitnya kita membawa banyak barang sehabis belanja, cathering sampai ketika kita berpindah tempat tinggal, ketika kita tertawa sambil mengendarainya dan ketika aku masih bisa mencium aroma tubuhmu. Yah dia mengingatkanku bagaimana aku memelukmu, bagaimana aku mengancingkan jaketmu dan bagaimana aku memasukkan tanganku yang dingin ke dalam saku mu.

Kami masih disini menantimu, sayangku. Aku dan motor butut kita.

Bembi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar