Selasa, 09 Februari 2016

Warna yang tak berwarna, rasa yang tak berasa

Bagaimanakah caranya menghilang? Bagaimanakah caranya sembunyi? Bagaimanakah caranya lari? Bagaimanakah caranya pergi? Bagaimanakah caranya menghilangkan ingatan? Bagaimanakah caranya menciptakan kebahagiaan meskipun itu palsu atau sesaat?

Banyak cara yang dilakukan sebagai pelampiasan keputus asaan. Keletihan, kepenatan. Ketika kesedihan menghantui, ketika mimpi buruk berkepanjangan. Ketika musim dingin tiada berakhir. Hujan terus menghujam.

Sesaknya menahan kerinduan, perihnya menjadi pemuja, kelamnya menjalani kehidupan tanpa asa, hidup dalam kesendirian, kehampaan dan kegelapan. Berjalan tanpa tujuan, memandang tanpa arah. Langit sudah tak berbintang, makanan berasa hambar. Senyap.

Bukan hanya perhiasaan yang imitasi, rasa, janji, cinta, kesetiaan, sayang, kekasih, warna, aroma, kebahagian, senyuman, tawa, kerinduan bahkan harapan. Sekarang semua bisa dipalsukan.

Hanya hati yang tidak akan bisa tertutupi, hati akan memancarkan isinya. Cepat atau lambat, lembut atau keras, hati akan menunjukkan keasliannya. Bagaimanakan melihat isi hati? Hati akan dapat segera dirasakan, hati akan menunjukkan jati dirinya. Meski terkadang resah, bimbang, gundah, banyak godaan yang akan merayu. Merayu untuk menggoyahkan.

Mana yang lebih baik, memiliki wawasan tinggi tanpa hati atau berhati tulus tanpa wawasan? Pilihan itu akan kembali kepada masing masing pribadi.

Bagaimana jika pelangi hanya memiliki warna hitam, rasa hanya ada pahit, aroma hanya memiliki busuk dan mimpi hanya mimpi buruk. Tentu saja tidak akan ada puding warna warni yang indah dengan rasa yang menggoda, ia hanya akan menjadi seperti bayangan yang terlewati. Senyum yang terlupakan, kasih yang terbuang atau kerinduan yang tak tersalurkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar