Di kutub, diujung belahan dunia lain. Dia berdiri kokoh, tegas tak tergoyah. Dia dingin dari ujung kaki sampai puncak. Aku ingin menaklukkannya. Menaklukan gunung es yang seakan dekat, namun begitu jauh.
Berlapis pakaian, sepatu bot, berlapis celana dan berlapis jaket. Aku siap bertempur, aku siap naik, aku siap menuju puncak. Tidak mudah, sangat sulit dan langka bagi yang mampu menaklukannya. Ada yang menyerah bahkan ada yang gugur dalam tidur tiada berkesudahan.
Gunung es itu begitu indah, namun begitu dingin, aku berfikir apakah dia adalah titik bumi, titik terdingin dunia? Tanganku mulai tidak berasa, kebas. Aku tetap melangkah naik, menanjak langkah demi langkah. Setapak demi setapak berusaha sampai pada bibirmu, melihat perutmu dan menciptakan cerita tentang perjuanganku.
Dalam seumur hidup ini keinginanku, mimpiku, menaklukan gunung es yang mengacuhkanku, yang dengan angkuh memalingkan wajahnya dariku dan berada sangat jauh dariku. Berhasil atau tidak, sampai puncak ataupun gugur dalam kebekuan abadi.
Dia yang indah, dingin serta mematikan. Aku tidak mengerti mengapa aku begitu menginginkannya, tapi yang pasti seluruh hidupku akan kupertaruhkan untuknya. Yah aku jatuh cinta pada gunung es itu pada sang pemilik pesona. Pesona yang selalu aku baca, aku tonton dan aku sentuh gambarnya. Pesona yang sering ku serukan dalam hati, fikiran serta doa. Pesona yang selalu bermain dalam ruang hati dalam setiap hembusan nafas.
Namun semua itu hanyalah angan, keinginku menaklukanmu seperti mimpi. Mimpi yang hanya akan tercapai dengan izin sang pencipta. Saat ini aku hanya bisa berharap dan memandangmu dari jauh. Akankah suatu saat doaku terkabul? Bismillah, kabulkanlah keinginan hatiku ya Allah pemilik semesta, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar